Minggu, Juni 05, 2011

Birunya Langit Hari Ini


If you look up at the sky after falling down, the blue sky is also today stretching limitlessly and smiles at me…

Yeah.. I’m alive!

motivasi motivasiBirunya langit hari ini mengajariku akan suatu hal, segalanya akan selalu berganti seperti indahnya langit hari ini, sebelumnya aku melihat mendung menutupi hamparan luas perkamen langit, namun angin mematuhi melukis takdirMu mengganti kelabunya langit mejadi biru nan elok, langit membiru seolah menitipkan senyuman matahari, mereka ingin kita selalu tersenyum, tersenyumlah untuk sekarang dan nanti sampai waktu cukup untuk melepas kita pergi, karena dengan senyuman segala hal yang menyiratkan kesedihan akan berangsur menghilang dan membuat segalanya terasa lebih mudah, kala kesedihan itu menghampiri ingatlah setiap kebahagiaan yang kita terima selama ini, bukankah porsi kebahagiaan lebih banyak dibandingkan kesedihan, lalu apa lagi yang kita risaukan? Karena setiap kesedihan atau kebahagiaan akan segera berakhir dan berganti dengan peristiwa lagi, sebuah proses pembelajaran untuk memahami mengapa kita hidup saat ini.

Aku berjalan hanya dengan mata hati, bernafas hanya dengan tekad, aku mendaki penuh dengan teka teki, dimanakah matahariku?

Matahariku selalu bersinar, namun makna sinarnya hanya mengenai mereka yang mau membuka diri, meskipun cahayanya seolah menerpa setiap insan di bumi ini, tapi tiap tiap yang menerima berbeda mengartikannya, ada yang bingung mengapa matahari ini kadang bersinar kadang redup, ada yang sedih kenapa matahari redup hari ini, ada yang risau akankah dapat melihat lagi indahnya matahari hari ini, dan ada pula yang berfikir mengapa matahari tidak pernah lelah bersinar? Kita berada dimana, kita berhak memilih.

Matahariku selalu bersinar, takdirnya memberi arti kehidupan ini, aku pun ingin seperti dia dengan segala kemampuan yang aku miliki saat ini, berusaha memberi arti, bukankah kita terlahir di dunia ini adalah dengan takdirNya, dan kita terlahir di dunia ini bukan tanpa tujuan melainkan membawa pesan- pesan Tuhan, hidup ini pilihan, dan aku telah putuskan, pilihan yang wajib aku perjuangkan. Aku dalam masa proses, tapi keyakinanku sangat kuat, aku harus berjuang kawan, kamu bisa aku pun bisa!

Bila Aku jatuh nanti, Aku siap Melompat lebih Tinggi.

Tetap Semangat dan Hadapi setiap Episode Hidup dengan Senyuman :-)

Everyone feels pain

But surely, after suffering satisfaction will arrive

Step by step, I want find that light :-)

Hidup Adalah Anugerah





Pada suatu hari ada seorang gadis buta yg sangat membenci dirinya sendiri. Karena kebutaannya itu. Tidak hanya terhadap dirinya sendiri, tetapi dia juga membenci semua orang kecuali kekasihnya.

Kekasihnya selalu ada disampingnya untuk menemani dan menghiburnya. Dia berkata akan menikahi gadisnya itu kalau gadisnya itu sudah bisa melihat dunia.

Suatu hari, ada seseorang yang mendonorkan sepasang mata kepada gadisnya itu Yang akhirnya dia bisa melihat semua hal, termasuk kekasih gadisnya itu .

Kekasihnya bertanya kepada gadisnya itu , ” Sayangggg … sekarang kamu sudah bisa melihat dunia. Apakah engkau mau menikah denganku?” Gadis itu terguncang saat melihat bahwa kekasihnya itu ternyata buta. Dan dia menolak untuk menikahi si pria pacar-nya itu yg selama ini sudah sangat setia sekali mendampingi hidupnya selama si gadis itu buta matanya.

Dan akhirnya si Pria kekasihnya itu pergi dengan meneteskan air mata, dan kemudian menuliskan sepucuk surat singkat kepada gadisnya itu, “Sayangku, tolong engkau jaga baik-baik ke-2 mata yg telah aku berikan kepadamu.”

* * * * *

Kisah di atas memperlihatkan bagaimana pikiran manusia berubah saat status dalam hidupnya berubah. Hanya sedikit orang yang ingat bagaimana keadaan hidup sebelumnya dan lebih sedikit lagi yang ingat terhadap siapa harus berterima kasih karena telah menyertai dan menopang bahkan di saat yang paling menyakitkan.

Hari ini sebelum engkau berpikir untuk mengucapkan kata- kata kasar Ingatlah akan seseorang yang tidak bisa berbicara.

Sebelum engkau mengeluh mengenai cita rasa makananmu, Ingatlah akan seseorang yang tidak punya apapun untuk dimakan.

Sebelum engkau mengeluh tentang suamimu, ingatlah akan seseorang yang menangis kepada Tuhan untuk meminta penyembuhan sehingga suaminya TIDAK LUMPUH seumur hidup.

Hari ini sebelum engkau mengeluh tentang hidupmu, Ingatlah akan seseorang yang begitu cepat pergi ke alam kubur dengan masih menyertakan kemiskinannya.

Sebelum engkau mengeluh tentang anak-anakmu Ingatlah akan seseorang yang begitu mengharapkan kehadiran seorang anak, tetapi tidak mendapatnya.

Dan ketika engkau lelah dan mengeluh tentang pekerjaanmu Ingatlah akan para penganguran, orang cacat dan mereka yang menginginkan pekerjaanmu.

Dan ketika beban hidup tampaknya akan menjatuhkanmu, pasanglah senyuman di wajahmu dan berterima kasihlah pada Tuhan karena engkau masih hidup dan ada di dunia ini.

Hidup adalah anugerah, syukurilah, jalanilah, nikmatilah dan isilah hidup ini dengan sesuatu yg bermanfaat untuk umat manusia.

NIKMATILAH dan BERI YANG TERBAIK DI SETIAP DETIK DALAM HIDUPMU, KARENA ITU TIDAK AKAN TERULANG LAGI untuk waktumu selanjutnya !!!

Dikirim oleh Karel Mandey

Dengan pengeditan seperlunya
Pencarian
,,hidup adalah,anugerah,hidup adalah anugerah,kumpulan cerita kehidupan,cerita bermotivasi,contoh slogan motivasi,www anugerah com,www ANUGERAH net,arti anugerah,cerita bagus,hidup adalah anugrah,www anugrah com,Kumpulan Kisah hidup,kumpulan cerita bermotivasi,kumpulan cerita bagus,hidup ini adalah anugerah,hidup itu anugrah,artikel hidup ini sangat berharga,artikel motivasi diri tentang bersyukur atas anugrah Tuhan,kumpulan kisah kehidupan,cerita cerita motivasi hidup,artikel Anugerah,hidup adalah?,cerita-cerita bermotivasi,Arti hidup adalah anugrah,anugerah com,makna anugrah,hidup itu apa,Anugerah net,artikel cerita bermotivasi

Menyikapi Masalah



Dalam mengarungi kehidupan ini, adakalanya kita dihadapkan pada badai kehidupan. Ada hal yang dapat kita ambil pelajaran dari seekor elang.

Elang mampu terbang tinggi dengan melewati angin yang kencang dan badai menerpanya. Apakah sahabat tau apa yang dilakukan elang saat badai menghampirinya? Ada hal yang menarik disini yang dapat kita pelajari.

Elang akan terbang ke tempat yang tinggi dan menunggu angin dan badai sambil membuka lebar-lebar sayapnya. Ketika badai datang, maka angin akan mengambil dan mengangkat tubuh elang ke atas badai. Sementara badai mengamuk di bawah, elang ini melonjak di atasnya.

Elang tidak luput badai. Ini adalah cara sederhana untuk memanfaatkan badai untuk mengangkat tubuhnya lebih tinggi. Elang terbang tinggi bersama angin yang membawa badai.



Ketika badai kehidupan datang kepada kita – dan kita semua akan mengalami

seperti yang elang alami – kita dapat naik di masalah dengan menetapkan pikiran kita dan keyakinan kita bahwa kita akan melewati masalah itu. Badai tidak harus kita atasi. Tapi kita punya pilihan untuk memanfaatkan masalah untuk meningkatkan kualitas kita.

Masalah bukanlah beban yang memberatkan kehidupan kita, namun ini adalah pelajaran dan pendidikan dari Allah, ini adalah cara untuk menaikkan kualitas kita. dan pelajaran bagaimana menangani masalah dengan berbekal keyakinan dan kemantapan hati. Bukan dengan keputusasaan dan ketakutan.

Tidaklah masalah menimpa suatu kaum, melebihi kemampuan kaum itu.



Saat masalah itu datang, lebarkan hati dan katakan, selamat datang masalah.

MAKALAH TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KACANG KEDELAI (Glycne max L)



BAB. I
PENDAHULUAN

Saat ini tanaman kedelai merupakan salah satu bahan pangan yang penting setelah beras disamping sebagai bahan pakan dan industri olahan. Karena hampir 90% digunakan sebagai bahan pangan maka ketersediaan kedelai menjadi faktor yang cukup penting (Anonimous, 2004c). Selain itu, kedelai juga merupakan tanaman palawija yang kaya akan protein yang memiliki arti penting sebagai sumber protein nabati untuk peningkatan gizi dan mengatasi penyakit kurang gizi seperti busung lapar Perkembangan manfaat kedelai di samping sebagai sumber protein, makanan berbahan kedelai dapat dipakai juga sebagai penurun cholesterol darah yang dapat mencegah penyakit jantung. Selain itu, kedelai dapat berfungsi sebagai antioksidan dan dapat mencegah penyakit kanker. Oleh karena itu, ke depan proyeksi kebutuhan kedelai akan meningkat
seiring dengan kesadaran masyarakat tentang makanan sehat. Produk kedelai
sebagai bahan olahan pangan berpotensi dan berperan dalam menumbuhkembangkan industri kecil menengah bahkan sebagai komoditas ekspor.
Kebutuhan kedelai pada tahun 2004 sebesar 2,02 juta ton, sedangkan produksi dalam negeri baru mencapai 0,71 juta ton dan kekurangannya diimpor sebesar 1,31 juta ton (Anonimous 2005c) Hanya sekitar 35% dari total kebutuhan dapat dipenuhi dari produksi dalam negeri sendiri. Upaya untuk menekan lajuimpor tersebut dapat ditempuh melalui strategi peningkatan produktivitas, perluasan areal tanam, peningkatan efisiensi produksi, penguatan kelembagaan petani, peningkatan kualitas produk, peningkatan nilai tambah, perbaikan akses pasar, perbaikan sistem permodalan, pengembangan infra struktur, serta pengaturan tataniaga dan insentif usaha (Anonimous, 2004c; 2005c). Mengingat Indonesia dengan jumlah penduduk yang cukup besar, dan industri pangan berbahan baku kedelai berkembang pesat maka komoditas kedelai perlu mendapat prioritas untuk dikembangkan di dalam negeri untuk menekan laju impor (Anoniomus, 2005b).
Tujuan penulisan makalah ini adalah memberikan gambaran tentang arah pengembangan produksi kedelai ke depan dan kebijakan penelitian, sebagai
bahan pertimbangan dalam menentukan arah kebijakan pengembangan komoditas kedelai.


BAB. II
BUDIDAYA TANI KEDELAI

a. Teknik Budidaya
1. Pembibitan
1) Penyiapan Benih
Pada tanah yang belum pernah ditanami kedelai, sebelum benih ditanam harus dicampur dengan legin, (suatu inokulum buatan dari bakteri atau kapang yang ditempatkan di media biakan, tanah, kompos untuk memulai aktifitas biologinya (Rhizobium japonicum). Pada tanah yang sudah sering ditanam dengan kedelai atau kacang-kacangan lain, berarti sudah mengandung bakteri tersebut. Bakteri ini akan hidup di dalam bintil akar dan bermanfaat sebagai pengikat unsur N dari udara.
Cara pemberian legin:
a) sebanyak 5-10 gram legin dibasahi dengan air sekitar 10 cc;
b) legin dicampur dengan 1 kg benih dan kocok hingga merata (agar seluruh kulit biji terbungkus dengan inokulum;
c) setelah diinokulasi, benih dibiarkan sekitar 15 menit baru dapat ditanam. Dapat juga benih diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum ditanam, tetapi tidak lebih dari 6 jam.
Selain itu, yang perlu diperhatikan dalam hal memilih benih yang baik adalah:
kondisi dan lama penyimpanan benih tersebut. Biji kedelai mudah menurun daya kecambah/daya tumbuhnya (terutama bila kadar air dalam biji ≥ 13% dan disimpan di ruangan bersuhu ≥ 25 derajat C, dengan kelembaban nisbi ruang ≥ 80%.


2) Teknik Penyemaian Benih
Penanaman dengan benih yang mempunyai daya tumbuh agak rendah dapat diatasi dengan cara menanamkan 3-4 biji tiap lubang, atau dengan memperpendek jarak tanam. Jarak tanam pada penanaman benih berdasarkan tipe pertumbuhan tegak dapat diperpendek, sebaliknya untuk tipe pertumbuhan agak condong (batang bercabang banyak) diusahakan agak panjang, supaya pertumbuhan tanaman yang satu dengan lainnya tidak terganggu.

3) Pemindahan Bibit
Ketika memindah yaitu menunjuk akar tanaman di kebun, perlu memperhatikan cara-cara yang baik dan benar. Pemindahan bibit yang ceroboh dapat merusak perakaran tanaman, sehingga pada saat bibit telah ditanam maka akan mengalami hambatan dalam pertumbuhan bahkan mati.

6.2. Pengolahan Media Tanam

1) Persiapan
Terdapat 2 cara mempersiapkan penanaman kedelai, yakni: persiapan tanpa pengolahan tanah (ekstensif) di sawah bekas ditanami padi rendheng dan
persiapan dengan pengolahan tanah (intensif). Persiapan tanam pada tanah
tegalan atau sawah tadah hujan sebaiknya dilakukan 2 kali pencangkulan.
Pertama dibiarkan bongkahan terangin-angin 5-7 hari, pencangkulan ke 2
sekaligus meratakan, memupuk, menggemburkan dan membersihkan tanah dari
sisa-sia akar. Jarak antara waktu pengolahan tanah dengan waktu penanaman
sekitar 3 minggu.



2) Pembentukan Bedengan
Pembuatan bedengan dapat dilakukan dengan pencangkulan ataupun denga bajak lebar 50-60 cm, tinggi 20 cm. Apabila akan dibuat drainase, maka jarak antara drainase yang satu dengan lainnya sekitar 3-4 m.

3) Pengapuran
Tanah dengan keasaman kurang dari 5,5 seperti tanah podsolik merah-kuning, harus dilakukan pengapuran untuk mendapatkan hasil tanam yang baik. Kapur dapat diberikan dengan cara menyebar di permukaan tanah, kemudian dicampur sedalam lapisan olah tanah sekitar 15 cm. Pengapuran dilakukan 1 bulan sebelum musim tanam, dengan dosis 2-3 ton/ha. Diharapkan pada saat musim tanam kapur sudah bereaksi dengan tanah, dan pH tanah sudah meningkat sesuai dengan yang diinginkan.
Kapur halus memberikan reaksi lebih cepat daripada kapur kasar. Sebagai
sumber kapur dapat digunakan batu kapur atau kapur tembok. Pemberian kapur
tidak harus dilakukan setiap kali tanam, tetapi setiap 3-4 tahun sekali. Dengan
pengapuran, tanah menjadi kaya akan Calsium (Ca) dan Magnesium (Mg) dan
pH-nya meningkat. Selain itu peningkatan pH dapat menaikkan tingkat persediaan Molibdenum (Mo) yang berperan penting untuk produksi kedelai dan golongan ketela pohon.

4) Waktu Tanam
Pemilihan waktu tanam kedelai ini harus tepat, agar tanaman yang masih muda tidak terkena banjir atau kekeringan. Karena umur kedelai menurut varietas yang dianjurkan berkisar antara 75-120 hari, maka sebaiknya kedelai ditanam menjelang akhir musim penghujan, yakni saat tanah agak kering tetapi masih mengandung cukup air.
Waktu tanam yang tepat pada masing-masing daerah sangat berbeda. Sebagai pedoman: bila ditanam di tanah tegalan, waktu tanam terbaik adalah permulaan musim penghujan. Bila ditanam di tanah sawah, waktu tanam paling tepat adalah menjelang akhir musim penghujan. Di lahan sawah dengan irigasi, kedelai dapat ditanam pada awal sampai pertengahan musim kemarau.

6.4. Pemeliharaan Tanaman

1) Penjarangan dan Penyulaman
Kedelai mulai tumbuh kira-kira umur 5-6 hari. Dalam kenyataannya tidak semua biji yang ditanam dapat tumbuh dengan baik, sehingga akan terlihat tidak
seragam. Untuk menjaga agar produksi tetap baik, benih kedelai yang tidak tumbuh sebaiknya segera diganti dengan biji-biji yang baru yang telah dicampur
Legin atau Nitrogen. Hal ini perlu dilakukan apabila jumlah benih yang tidak
tumbuh mencapai lebih dari 10 %. Waktu penyulaman yang terbaik adalah sore
hari.

2) Penyiangan
Penyiangan ke-1 pada tanaman kedelai dilakukan pada umur 2-3 minggu.
Penyiangan ke-2 dilakukan pada saat tanaman selesai berbunga, sekitar 6 minggu setelah tanam. Penyiangan ke-2 ini dilakukan bersamaan dengan pemupukan ke-2 (pemupukan lanjutan). Penyiangan dapat dilakukan dengan cara mengikis gulma yang tumbuh dengan tangan atau kuret. Apabila lahannya luas, dapat juga dengan menggunakan herbisida. Sebaiknya digunakan herbisida
seperti Lasso untuk gulma berdaun sempit dengan dosis 4 liter/ha.

3) Pembubunan
Pembubunan dilakukan dengan hati-hati dan tidak terlalu dalam agar tidak merusak perakaran tanaman. Luka pada akar akan menjadi tempat penyakit yang berbahaya.

4) Pemupukan
Dosis pupuk yang digunakan sangat tergantung pada jenis lahan dan kondis tanah. Pada tanah subur atau tanah bekas ditanami padi dengan dosis pupuk tinggi, pemupukan tidak diperlukan. Pada tanah yang kurang subur, pemupukan dapat menaikkan hasil. Dosis pupuk secara tepat adalah sebagai berikut:
a) Sawah kondisi tanah subur: pupuk Urea=50 kg/ha.
b) Sawah kondisi tanah subur sedang: pupuk Urea=50 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.
c) Sawah kondisi tanah subur rendah: pupuk Urea=100 kg/ha, TSP=75 kg/ha dan KCl=100 kg/ha.
d) Lahan kering kondisi tanah kurang subur: pupuk kandang=2000-5000 kg/ha;
e) Urea=50-100 kg/ha, TSP=50-75 kg/ha dan KCl=50-75 kg/ha.

5) Pengairan dan Penyiraman
Kedelai menghendaki kondisi tanah yang lembab tetapi tidak becek. Kondisi seperti ini dibutuhkan sejak benih ditanam hingga pengisian polong. Saat menjelang panen, tanah sebaiknya dalam keadaan kering. Kekurangan air pada masa pertumbuhan akan menyebabkan tanaman kerdil, bahkan dapat
menyebabkan kematian apabila kekeringan telah melalui batas toleransinya.
kekeringan pada masa pembungaan dan pengisian polong dapat menyebabkan
kegagalan panen.
Di lahan sawah irigasi, pemberian air di sawah bisa diatur. Namun bila tidak ada irigasi, penyediaan air hanya hanya dapat dilakukan dengan mengatur waktu tanamnya dan pemberian mulsa. Mulsa berupa jerami atau potongan-potongan tanaman lainnya yang dihamparkan pada permukaan tanah. Mulsa ini akan mencegah penguapan air secara berlebihan.
Apabila ada irigasi dan tidak ada hujan selama lebih dari 7 hari, tanah harus diairi.
Caranya tanaman digenangi air selama 30-60 menit. Pengairan seperti ini diulangi setiap 7-10 hari. Pengairan tidak dilakukan lagi apabila polong telah terisi penuh.
Pada tanah yang keras (drainase buruk) kelebihan air akan meyebabkan akar membusuk. Di tanah berdrainase buruk harus dibuat saluran drainase di setiap 3-4 meter lahan memanjang sejajar dengan barisan tanam. Hal ini terutama dilakukan pada saat musim hujan.

6) Waktu Penyemprotan Pestisida
Penyemprotan pestisida dilakukan pada waktu yang berbeda-beda tergantung jenis hama dan pola penyerangannya.
a. Lalat bibit, diberi insektisida Marshal 200 EC, dicampur dengan benih,dilakukan sebelum benih ditanam.
b) Ulat prodenia dilakukan penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, Huslation 40 EC, Thiodon 35 EC dan Barudin 60 EC sebanyak 2 kali seminggu setelah ditemukan telur.
a. Wereng kedelai atau kumbang daun, disemprot dengan insektisida Surecide
c) 25 EC, Kharpos 50 EC, Hosthathion 40 EC, Azodrin 15 WSC, Sevin 85 SP atau Tamaron pada tanaman setelah berumur di atas 20 hari.
a. Kepik coklat disemprot dengan Azodrin 15 WSC, Diazinois 60 EC dan Dusban
d) 20 EC atau Bayrusil setiap 1-2 minggu, setelah tanam 50 hari.
a. Ulat penggerek polong, disemprot dengan insektisida Agrothion 50 EC, Dursban 20 EC, Azodrin 115 WSC, Thiodan 35 EC pada waktu pembentukan polong.

7) Pemeliharaan Lain
Kedelai termasuk tanaman yang membutuhkan banyak sinar matahari maka membutuhkan tanaman pelindung. Tanaman kedelai yang terlindung akan selalu muda sehingga proses pembentukan buah kurang baik, dan hasilnya akan sedikit, bahkan tidak berbuah sama sekali. Tanaman kedelai akan rusak bila tertimpa cabang -cabang kering tanaman pelindung yang jatuh.

7. HAMA DAN PENYAKIT
7.1. Hama
a) Aphis SPP (Aphis Glycine)
Kutu dewasa ukuran kecil 1-1,5 mm berwarna hitam, ada yang bersayap dan tidak. Kutu ini dapat dapat menularkan virus SMV (Soyabean Mosaik Virus). Menyerang pada awal pertumbuhan dan masa pertumbuhan bunga dan polong.
Gejala: layu, pertumbuhannya terhambat.
Pengendalian:
(1) menanam kedelai
pada waktunya, mengolah tanah dengan baik, bersih, memenuhi syarat, tidak
ditumbuhi tanaman inang seperti: terung-terungan, kapas-kapasan atau kacangkacangan;
(2) membuang bagian tanaman yang terserang hama dan membakarnya;
(3) menggunakan musuh alami (predator maupun parasit);
(4) penyemprotan insektisida dilakukan pada permukaan daun bagian atas dan bawah.

b) Melano Agromyza Phaseoli, kecil sekali (1,5 mm)
Lalat bertelur pada leher akar, larva masuk ke dalam batang memakan isi batang, kemudian menjadi lalat dan bertelur. Lebih berbahaya bagi kedelai yang ditanam di ladang.
Pengendalian:
(1) waktu tanam pada saat tanah masih lembab dan subur (tidak pada bulan-bulan kering);
(2) penyemprotan Agrothion 50 EC, Azodrin 15 WSC, Sumithoin 50 EC, Surecide 25 EC

c) Kumbang daun tembukur (Phaedonia Inclusa)
Bertubuh kecil, hitam bergaris kuning. Bertelur pada permukaan daun. Gejala: larva dan kumbang memakan daun, bunga, pucuk, polong muda, bahkan seluruh tanaman.
Pengendalian: penyemprotan Agrothion 50 EC, Basudin 50 EC, Diazinon 60 EC, dan Agrothion 50 EC.

d) Cantalan (Epilachana Soyae)
Kumbang berwarna merah dan larvanya yang berbulu duri, pemakan daun dan merusak bunga.
Pengendalian: sama dengan terhadap kumbang daun tembukur.

e) Ulat polong (Etiela Zinchenella)
Ulat yang berasal dari kupu-kupu ini bertelur di bawah daun buah, setelah
menetas, ulat masuk ke dalam buah sampai besar, memakan buah muda. Gejala:
pada buah terdapat lubang kecil. Waktu buah masih hijau, polong bagian luar
berubah warna, di dalam polong terdapat ulat gemuk hijau dan kotorannya.
Pengendalian:
(1) kedelai ditanam tepat pada waktunya (setelah panen padi),
sebelum ulat berkembang biak;
(2) penyemprotan obat Dursban 20 EC sampai 15 hari sebelum panen.

f) Kepala polong (Riptortis Lincearis)
Gejala: polong bercak-bercak hitam dan menjadi hampa.
Pengendalian: penyemprotan Surecide 25 EC, Azodrin 15 WSC.

g) Lalat kacang (Ophiomyia Phaseoli)
Menyerang tanaman muda yang baru tumbuh.
Pengendalian: Saat benih
ditanam, tanah diberi Furadan 36, kemudian setelah benih ditanam, tanah ditutup dengan jerami . Satu minggu setelah benih menjadi kecambah dilakukan
penyemprotan dengan insektisida Azodrin 15 WSC, dengan dosis 2 cc/liter air,
volume larutan 1000 liter/ha. Penyemprotan diulangi pada waktu kedelai berumur 1 bulan.

h) Kepik hijau (Nezara Viridula)
Panjang 16 mm, telur di bawah permukaan daun, berkelompok. Setelah 6 hari telur menetas menjadi nimfa (kepik muda), yang berwarna hitam bintik putih. Pagi hari berada di atas daun, saat matahari bersinar turun ke polong, memakan polong dan bertelur. Umur kepik dari telur hingga dewasa antara 1 sampai 6 bulan.
Gejala: polong dan biji mengempis serta kering. Biji bagian dalam atau kulit
polong berbintik coklat.
Pengendalian: Azodrin 15 WCS, Dursban 20 EC,
Fomodol 50 EC.

i) Ulat grayak (Prodenia Litura)
Seranggan: mendadak dan dalam jumlah besar, bermula dari kupu-kupu berwarna keabu-abuan, panjang 2 cm dan sayapnya 3-5 cm, bertelur di permukaan daun. Tiap kelompok telur terdiri dari 350 butir.
Gejala: kerusakan pada daun, ulat hidup bergerombol, memakan daun, dan berpencar mencari rumpun lain.
Pengendalian: (1) dengan cara sanitasi; (2) disemprotkan pada sore/malam hari
(saat ulat menyerang tanaman) beberapa insektisida yang efektif seperti Dursban 20 EC, Azodrin 15 WSC dan Basudin 50 EC.

7.2. Penyakit
a) Penyakit layu lakteri (Pseudomonas solanacearum)
Penyakit ini menyerang pangkal batang. Penyerangan pada saat tanaman berumur 2-3 minggu. Penularan melalui tanah dan irigasi.
Gejala: layu mendadak bila kelembaban terlalu tinggi dan jarak tanam rapat. Pengendalian:
(1) biji yang ditanam sebaiknya dari varietas yang tahan layu dan kebersihan sekitar tanaman dijaga, pergiliran tanaman dilakukan dengan tanaman yang bukan merupakan tanaman inang penyakit tersebut. Pemberantasan: belum ada.

b) Penyakit layu (Jamur tanah : Sclerotium Rolfsii)
P enyakit ini menyerang tanaman umur 2-3 minggu, saat udara lembab, dan tanaman berjarak tanam pendek.
Gejala: daun sedikit demi sedikit layu,
menguning. Penularan melalui tanah dan irigasi.
Pengendalian:
(1) varietas yang ditanam sebaiknya yang tahan terhadap penyakit layu;
(2) menyemprotkan Dithane M 45, dengan dosis 2 gram/liter air.

c) Penyakit lapu (Witches Broom: Virus)
Penyakit ini menyerang polong menjelang berisi. Penularan melalui singgungan tanam karena jarak tanam terlalu dekat.
Gejala: bunga, buah dan daun mengecil.
Pengendalian: menyemprotkan Tetracycline atau Tokuthion 500 EC.

d) Penyakit anthracnose (Cendawan Colletotrichum Glycine Mori)
Penyakit ini menyerang daun dan polong yang telah tua. Penularan dengan perantaraan biji-biji yang telah kena penyakit, lebih parah jika cuaca cukup lembab.
Gejala: daun dan polong bintik-bintik kecil berwarna hitam, daun yang
paling rendah rontok, polong muda yang terserang hama menjadi kosong dan isi
polong tua menjadi kerdil.
Pengendalian:
(1) perhatikan pola pergiliran tanam
yang tepat;
(2) penyemprotan Antracol 70 WP, Dithane M 45, Copper Sandoz.

e) Penyaklit karat (Cendawan phakospora Phachyrizi)
Penyakit ini menyerang daun. Penularan dengan perantaraan angin yang
menerbangkan dan menyebarkan spora.
Gejala: daun tampak bercak dan bintik
coklat.
Pengendalian:
(1) cara menanam kedelai yang tahan terhadap penyakit;
(2) menyemprotkan Dithane M 45.

f) Penyakit bercak daun bakteri (Xanthomonas phaseoli)
Penyakit ini menyerang daun.
Gejala: permukaan daun bercak-bercak menembus
ke bawah.
Pengendalian: menyemprotkan Dithane M 45.

g) Penyakit busuk batang (Cendawan Phytium Sp)
Penyakit ini menyerang batang. Penularan melalui tanah dan irigasi. Gejala: batang menguning kecokllat-coklatan dan basah, kemudian membusuk dan mati.
Pengendalian: (1) memperbaiki drainase lahan; (2) menyemprotkan Dithane M
45.

h) Virus mosaik (virus)
Penyakit ini menyerang Yang diserang daun dan tunas. Penularan vektor
penyebar virus ini adalah Aphis Glycine (sejenis kutu daun).
Gejala:
perkembangan dan pertumbuhan lambat, tanaman menjadi kerdil. Pengendalian:
(1) penanaman varietas yang tahan terhadap virus; (2) menyemprotkan Tokuthion
500 EC.

8. PANEN
8.1. Ciri dan Umur Panen
Panen kedelai dilakukan apabila sebagian besar daun sudah menguning, tetapi bukan karena serangan hama atau penyakit, lalu gugur, buah mulai berubah warna dari hijau menjadi kuning kecoklatan dan retak-retak, atau polong sudah kelihatan tua, batang berwarna kuning agak coklat dan gundul. Panen yang terlambat akan merugikan, karena banyak buah yang sudah tua dan kering, sehingga kulit polong retak-retak atau pecah dan biji lepas berhamburan. Disamping itu, buah akan gugur akibat tangkai buah mengering dan lepas dari cabangnya.
Perlu diperhatikan umur kedelai yang akan dipanen yaitu sekitar 75-110 hari, tergantung pada varietas dan ketinggian tempat. Perlu diperhatikan, kedelai yang akan digunakan sebagai bahan konsumsi dipetik pada usia 75-100 hari, sedangkan untuk dijadikan benih dipetik pada umur 100-110 hari, agar kemasakan biji betulbetul sempurna dan merata.

8.2. Cara Panen
Pemungutan hasil kedelai dilakukan pada saat tidak hujan, agar hasilnya segera dapat dijemur.

a) Pemungutan dengan cara mencabut
Sebelum tanaman dicabut, keadaan tanah perlu diperhatikan terlebih dulu. Pada tanah ringan dan berpasir, proses pencabutan akan lebih mudah. Cara
pencabutan yang benar ialah dengan memegang batang poko, tangan dalam
posisi tepat di bawah ranting dan cabang yang berbuah. Pencabutan harus dilakukan dengan hati-hati sebab kedelai yang sudah tua mudah sekali rontok bila tersentuh tangan.

b) Pemungutan dengan cara memotong
Alat yang biasanya digunakan untuk memotong adalah sabit yang cukup tajam, sehingga tidak terlalu banyak menimbulkan goncangan. Di samping itu dengan alat pemotong yang tajam, pekerjaan bisa dilakukan dengan cepat dan jumlah buah yang rontok akibat goncangan bisa ditekan. Pemungutan dengan cara memotong bisa meningkatkan kesuburan tanah, karena akar dengan bintilbintilnya yang menyimpan banyak senyawa nitrat tidak ikut tercabut, tapi tertinggal di dalam tanah. Pada tanah yang keras, pemungutan dengan cara mencabut sukar dilakukan, maka dengan memotong akan lebih cepat.


8.3. Periode Panen
Mengingat kemasakan buah tidak serempak, dan untuk menjaga agar buah yang belum masak benar tidak ikut dipetik, pemetikan sebaiknya dilakukan secara bertahap, beberapa kali.
8.4. Prakiraan Produksi
Produksi kedelai yang didasilkan para petani Indonesia rata-rata 600-700 kg/ha.

9. PASCAPANEN
9.1. Pengumpulan dan Pengeringan
Setelah pemungutan selesai, seluruh hasil panen hendaknya segera dijemur. Kedelai dikumpulkan kemudian dijemur di atas tikar, anyaman bambu, atau di lantai semen selama 3 hari. Sesudah kering sempurna dan merata, polong kedelai akan mudah pecah sehingga bijinya mudah dikeluarkan. Agar kedelai kering sempurna, pada saat penjemuran hendaknya dilakukan pembalikan berulang kali. Pembalikan juga menguntungkan karena dengan pembalikan banyak polong pecah dan banyak biji lepas dari polongnya. Sedangkan biji-biji masih terbungkus polong dengan mudah bisa dikeluarkan dari polong, asalkan polong sudah cukup kering.
Biji kedelai yang akan digunakan sebagai benih, dijemur secara terpisah. Biji tersebut sebenarnya telah dipilih dari tanaman-tanaman yang sehat dan dipanen tersendiri, kemudian dijemur sampai betul-betul kering dengan kadar air 10-15 %.
Penjemuran benih sebaiknya dilakukan pada pagi hari, dari pukul 10.00 hingga 12.00 siang.

9.2. Penyortiran dan Penggolongan
Terdapat beberapa cara untuk memisahkan biji dari kulit polongan. Diantaranya dengan cara memukul-mukul tumpukan brangkasan kedelai secara langsung dengan kayu atau brangkasan kedelai sebelum dipukul-pukul dimasukkan ke dalam karung, atau dirontokkan dengan alat pemotong padi.
Setelah biji terpisah, brangkasan disingkirkan. Biji yang terpisah kemudian ditampi agar terpisah dari kotoran-kotoran lainnya. Biji yang luka dan keriput dipisahkan. Biji yang bersih ini selanjutnya dijemur kembali sampai kadar airnya 9-11 %. Biji yang sudah kering lalu dimasukkan ke dalam karung dan dipasarkan atau disimpan.
Sebagai perkiraan dari batang dan daun basah hasil panen akan diperoleh biji kedelai sekitar 18,2 %.

9.3. Penyimpanan dan pengemasan
Sebagai tanaman pangan, kedelai dapat disimpan dalam jangka waktu cukup lama. Caranya kedelai disimpan di tempat kering dalam karung. Karung-karung kedelai ini ditumpuk pada tempat yang diberi alas kayu agar tidak langsung menyentuh tanah atau lantai. Apabila kedelai disimpan dalam waktu lama, maka setiap 2-3 bulan sekali harus dijemur lagi sampai kadar airnya sekitar 9-11 %.

B. Usahatani
Tanaman kedelai yang merupakan tanaman cash crop dibudidayakan di lahan sawah dan di lahan kering. Sekitar 60% areal pertanaman kedelai terdapat
di lahan sawah dan 40% lainnya di lahan kering. Areal pertanaman kedelai
tersebar di seluruh Indonesia dengan luas masing-masing seperti disajikan pada
menunjukkan bahwa luas areal tanam mencapai puncaknya tahun 1992, yaitu 1,67 juta ha. Namun sejak tahun 2000 areal tanam terus menurun menjadi 0,53 juta ha pada tahun 2003. Penurunan areal tanam ada kaitannya dengan banjirnya kedelai impor sehingga nilai kompetitif dan komparatif tanaman kedelai merosot. Secara finansial usahatani kedelai di tingkat petani menguntungkan, di mana pendapatan bersih yang diperoleh sekitar Rp 2.048.500/ha dengan R/C 2,14 (Anonimous, 2005a).
b. Sistem pendukung
Benih bermutu varietas unggul merupakan salah satu faktor yang menentukan produktivitas pertanaman kedelai. Dalam mendukung penyediaan
benih bermutu industri benih di komoditas kedelai belum berkembang dengan
baik. Produsen benih nasional maupun penangkar lokal masih kurang berperan
(Nugraha, 1996, Siregar, 1999) Berbeda dengan komoditas padi dan jagung,
Usaha perbenihan untuk tanaman kedelai masih tertinggal, petani lebih banyak memakai benih asalan atau turunan dari pertanaman sebelumnya. Pemakaian benih unggul bersertifikat pada tanaman kedelai kurang dari 10% (Anonimous 2004b). Industri pangan berupa tahu, tempe dan kecap banyak menyerap biji kedelai. Konsumsi tertinggi adalah untuk bahan industri tahu dan tempe.
Berdasarkan perhitungan, konsumsi kedelai untuk tahu dan tempe pada tahun 2002 mencapai 1,776 juta ton, atau 88% dari total kebutuhan dalam negeri digunakan sebagai bahan baku olahan tahu dan tempe (BPS, 2002) Industri pakan ternak (unggas) merupakan kegiatan agribisnis hilir yang cukup penting dalam agribisnis kedelai. Dalam pembuatan pakan ternak, bungkil kedelai merupakan bahan terpenting kedua setelah jagung, yaitu sekitar 15–20% dari komposisi pakan. Kedelai juga sebagai bahan baku penting industri lain, di antaranya tepung, olahan pangan, dan pati. Namun kebutuhan industri lain ini hanya menyerap biji kedelai sekitar 12% dari total kebutuhan konsumsi kedelai.



BAB. III
POTENSI, DAN ARAH PENGEMBANGAN KEDELAI

1. Potensi Lahan
Potensi lahan yang sesuai untuk pengembangan kedelai dapat diarahkan ke provinsi-provinsi yang pernah berhasil menanam kedelai Peta wilayah potensial sumber pertumbuhan baru produksi kedelai dan Location Quotient (LQ) digunakan sebagai indikator kesesuaian agroekosistem bagi usaha tani kedelai (Fagi, 2005)
Potensi lahan yang sesuai untuk tanaman kedelai, baik untuk program peningkatan produktivitas maupun perluasan areal. Namun untuk pengembangan tanaman kedelai masih banyak kendalanya antara lain nilai komparatif dan kompetitif kedelai paling rendah di antara komoditas lainnya. Pengembangan areal tanam kedelai dapat dilakukan pada lahan sawah, lahan kering (tegalan), lahan bukaan baru dan lahan pasang surut yang telah direklamasi.
2. Perkembangan Luas Panen, Produktivitas, dan Produksi
Data statistik dari FAO menunjukkan bahwa selama periode 1990–1995,
areal panen kedelai masih meningkat dari 1,33 juta ha pada tahun 1990 menjadi
1.48 juta ha pada tahun 1995, atau meningkat rata-rata 2,06 persen per tahun.
Sejak tahun 1995, terjadi penurunan areal panen secara tajam dari sekitar 1,48
juta ha menjadi sekitar 0,83 juta ha pada tahun 2000, atau menurun rata-rata
11,00 persen per tahun. Selama periode 2000–2004, areal panen kedelai masih
terus menurun rata-rata 9,66 persen per tahun.
Secara keseluruhan, selama periode 15 tahun terakhir (1990–2004) luas
areal kedelai di Indonesia menurun tajam dari sekitar 1,33 juta ha pada tahun
1990 menjadi 0,55 juta ha pada tahun 2004, atau turun rata-rata 6,14 persen per
tahun, seperti terlihat pada Tabel 4 diatas.
Perkembangan teknologi, baik penggunaan varietas maupun teknologi
budidaya sedikit berhasil meningkatkan produktivitas kedelai dari rata-rata 1,11
ton/ha pada tahun 1990 menjadi rata-rata 1,29 ton/ha pada tahun 2004, atau
meningkat rata-rata 1,03 persen per tahun. Peningkatan produktivitas mencapai
puncaknya pada periode 1995–2000, yaitu mencapai rata-rata 1,65 persen per
tahun. Meskipun produktivitas meningkat, namun peningkatan tersebut jauh lebih rendah daripada penurunan luas areal, sehingga total produksi pada periode tersebut turun rata-rata 9,53 persen per tahun.

4. Pasar, Harga dan Daya Saing
Diduga penurunan harga riil menjadi disinsentif yang menyebabkan terjadinya penurunan areal panen kedelai. Selain itu, persaingan penggunaan
lahan dengan palawija lainnya juga diduga merupakan salah satu penyebab
turunnya areal panen kedelai. Indikatornya ialah kenaikan harga riil jagung.
Secara teoritis, kenaikan harga jagung akan mendorong petani untuk menanam
komoditas tersebut. Konsekuensinya ialah bahwa kenaikan areal tanam jagung
(sebagai komoditas pesaing) dengan sendirinya akan mengurangi areal untuk
kedelai, karena lahan yang digunakan adalah lahan yang sama. Perkembangan
harga riil kedelai dan jagung sebagai pesaing. Harga yangdigunakan dalam bahasan ini adalah harga riil, yaitu harga nominal dideflasi dengan indeks harga umum dengan tahun dasar 1983. Berdasarkan data statistik dari FAO, harga riil kedelai selama periode 1991–2002 berfluktuasi dari tahun ketahun. Namun demikian, secara umum mengalami penurunan dari Rp 493/kg pada tahun 1991 menjadi Rp 344/kg pada tahun 2002, atau turun rata-rata 3,21 persen per tahun. Di lain pihak, harga riil jagung ternyata meningkat rata-rata 0,98 persen per tahun selama periode yang sama. Perkembangan harga kedua komoditas ini merupakan salah satu indikator adanya persaingan penggunaan lahan. Kenaikan harga jagung akan mendorong petani untuk menanam jagung, sehingga akan menurunkan areal tanam kedelai.


a. Pemasaran
Seperti telah diungkapkan di atas, bahwa kedelai pada umumnya dikonsumsi dalam bentuk produk olahan. Oleh karena itu, pemasarannya mulai
dari daerah sentra produksi ke industri pengolahan melalui pedagang, dan bermuara ke konsumen akhir. Selain dari petani, kedelai di pasar domestik juga
sebagian berasal dari impor. Kedelai impor umumnya dibeli oleh koperasi pengerajin tahu dan tempe (KOPTI), untuk selanjutnya dipasarkan ke pengerajin tahu dan tempe.
Dalam pemasaran kedelai, petani umumnya berada dalam posisi tawar
yang lemah, sehingga harga kedelai di tingkat petani lebih banyak ditentukan oleh pedagang. Oleh karena itu, harga riil di tingkat produsen (petani) selama 15 tahun terakhir cenderung terus menurun. Dalam pengembangan diperlukan perbaikan tataniaga kedelai dari produsen hingga konsumen.
b. Daya Saing Usahatani
Seperti telah diungkapkan di atas, bahwa secara finansial usahatani kedelai di Indonesia menguntungkan (Anonimous, 2004b). Namun demikian, keuntungan finansial belum dapat menggambarkan tingkat efisiensi ekonomi usahatani, karena masih banyak terdapat komponen subsidi atau proteksi. Oleh karena itu, untuk mengevaluasi daya saing suatu komoditas diperlukan evaluasi secara ekonomi.
Studi daya saing yang pernah dilakukan oleh Gonzales (1993) menunjukkan bahwa secara ekonomi usahatani kedelai di Indonesia belum mempunyai keunggulan komparatif dan kompetitif, baik yang dilakukan secara tradisional maupun secara komersial, untuk ketiga rezim pemasaran, yaitu perdagangan antar wilayah (IRT), substitusi impor (IS), dan promosi ekspor (EP).
Padi dan jagung mempunyai keunggulan komparatif jika diproduksi untuk perdagangan antar wilayah dan substitusi impor. Sedangkan untuk promosi ekspor tidak mempunyai keunggulan komparatif. Untuk kedelai, tidak mempunyai keunggulan komparatif untuk ketiga regim pemasaran. Hal ini diperlihatkan oleh nilai RCR yang lebih besar dari 1,00. Artinya ialah bahwa untuk memperoleh penerimaan US$ 1.00 memerlukan korbanan (biaya) melebihi US$ 1.00. Padahal pada tahun 1992–1993 Indonesia mencapai puncak luas areal tanam kedelai, yang mencerminkan adanya insentif harga untuk menanam kedelai.

B. Sasaran
Sasaran yang hendak dicapai adalah:
a) Berfungsinya sistem pengelolaan plasma nutfah tanaman kedelai untuk melayani kebutuhanprodusen, dengan prioritas dapat dilestarikannya.
b) Tersedia dan berfungsinya sistem dan teknik produksi kedelai lahan sawah irigasi dan tadah hujan serta lahan kering masam.
c) Dihasilkannya, tersedianya dan dimanfatkannya benih penjenis VUB kedelai.

IV. KESIMPULAN

Dari uraian yang telah dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa:
a) Pengembangan kedelai di dalam negeri diarahkan melalui strategi
b) peningkatan produktivitas dan perluasan areal tanam. Peningkatan
c) produktivitas dicapai dengan penerapan teknologi yang sesuai (spesifik) bagi
d) agroekologi/wilayah setempat. Perluasan areal tanam diarahkan melalui
e) peningkatan indeks pertanaman (IP) di lahan sawah irigasi sederhana, sawah tadah hujan dan lahan kering yang telah diusahakan


PUSTAKA

Adisarwanto, T. 2004. Strategi peningkatan produksi kedelai sebagai upaya untuk
memenuhi kebutuhan dalam negeri dan mengurangi impor. Orasi
Pengukuhan APU. Badan Litbang Pertanian. 50 hlm.
______________ 2005. Kedelai, budidaya dengan pemupukan yang efektif dan
pengoptimalan peran bintil akar. Seri Agribisnis. Penebar Swadaya. 107
hlm.
Anonimuos, 2004a. Dukungan inovasi teknologi dalam program bangkit kedelai.
Puslitbangtan. Makalah disampaikan pada Bangkit Kedelai di Cisarua.
Ditjentan. Bogor. 36 hlm.
__________ 2004b. Profil Kedelai (Glycine max). Ditjentan, Direktorat Kacangkacangan
dan Umbi-umbian. 50 hlm.
__________ 2004c. Roadmap Komoditas Kedelai. Balitkabi. 9 hlm.
__________ 2005a. Program Bangkit Kedelai tahun 2004. Ditjentan, Direktorat
Kacang-kacangan dan Umbi-umbian. 27 hlm.
IV-187
__________ 2005b Makalah Menteri Pertanian dalam Rapat Koordinasi Bidang
Perekonomian. 13 April 2005. 16 hlm.
Anonimous, 2005 c. Renstra Balitkabi 2005-2009, Balitkabi (Proses Publikasi)
__________ 2005c. Rencana Pembangunan Pertanian Jangka Menengah
(RPPJM: 2005–2010) Departemen Pertanian.
Gonzales, L.A. , F. Kasryno, N.D. Perez and M.W. Rosegrant. 1993. Economic
Incentives and Comparative Advantage in Indonesian Food Crop Production.



MAKALAH TEKNIK BUDIDAYA TANAMAN KACANG KEDELAI (Glycne max L)


OLEH :
TEZHA YAWIOENDA, S.ST
WKPP REUKIH XIV

UPTD BPP INDRAPURI KECAMATAN INDRAPURI KABUPATEN ACEH BESAR
2011

MEDIA PEMBELAJARAN DAN SUMBER BELAJAR

MEDIA PEMBELAJARAN DAN
SUMBER BELAJAR
DIREKTORAT TENAGA KEPENDIDIKAN
DIREKTORAT JENDERAL
PENINGKATAN MUTU PENDIDIK DAN TENAGA KEPENDIDIKAN
DEPARTEMEN PENDIDIKAN NASIONAL
2008
KOMPETENSI SUPERVISI AKADEMIK
03 – B7
PENGAWAS SEKOLAH
PENDIDIKAN MENENGAH
PENGAWAS SEKOLAH
PENDIDIKAN MENENGAH
i
KATA PENGANTAR
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 12 Tahun
2007 tentang Standar Pengawas Sekolah/Madrasah berisi standar kualifikasi
dan kompetensi pengawas sekolah. Standar kualifikasi menjelaskan persyaratan
akademik dan nonakademik untuk diangkat menjadi pengawas sekolah.
Standar kompetensi menjelaskan seperangkat kemampuan yang harus dimiliki
dan dikuasai pengawas sekolah untuk dapat melaksanakan tugas pokok,
fungsi, dan tanggung jawabnya.
Ada enam dimensi kompetensi yang harus dikuasai pengawas sekolah
yakni: (a) kompetensi kepribadian, (b) kompetensi supervisi manajerial, (c)
kompetensi supervisi akademik, (d) kompetensi evaluasi pendidikan, (e) kompetensi
penelitian dan pengembangan, dan (f) kompetensi sosial. Dari hasil
uji kompetensi di beberapa daerah menunjukkan kompetensi pengawas sekolah
masih perlu ditingkatkan terutama dimensi kompetensi supervisi manajerial,
supervisi akademik, evaluasi pendidikan, dan kompetensi penelitian dan
pengembangan. Untuk itu diperlukan adanya diklat peningkatan kompetensi
pengawas sekolah baik bagi pengawas sekolah dalam jabatan, terlebih lagi
bagi para calon pengawas sekolah.
Materi dasar untuk semua dimensi kompetensi sengaja disiapkan agar
dapat dijadikan rujukan oleh para pelatih dalam melaksanakan diklat peningkatan
kompetensi pengawas sekolah di mana pun pelatihan tersebut dilakanakan.
Kepada tim penulis materi diklat kompetensi pengawas sekolah yang terdiri
atas dosen LPTK dan widya iswara dari LPMP dan P4TK kami ucapkan
terima kasih. Semoga tulisan ini ada manfaatnya.
Jakarta, Juni 2008
Direktur Tenaga Kependidikan
Ditjen PMPTK
Surya Dharma, MPA., Ph.D

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Sejalan dengan perkembangan peradaban dan kemajuan ilmu pengetahuan
dan teknologi, maka paradigma pendidikan juga mengalami pergeseran,
khususnya mengenai eksistensi guru di dalam interaksi belajar mengajar. Pada
masa awal di mana penerbitan, media masa dan teknologi belum berkembang,
kedudukan guru sangat vital, karena belum banyak informasi atau sumber
belajar lain yang dapat dimanfaatkan oleh siswa. Guru menjadi satu-satunya
sumber informasi/ilmu.
Dewasa ini dengan perkembangan media cetak, media elektronik serta
teknologi informasi dan komunikasi sumber belajar atau sumber informasi
tersedia sangat melimpah. Setiap peserta didik dapat mengakses berbagai informasi
yang terkait dengan materi pembelajaran di sekolah dari berbnagai
media yang ada dengan sangat mudah. Posisi guru pun tidak lagi menjadi satu-
satunya sumber belajar.
Dalam posisi demikian, maka guru harus mampu memerankan diri sebagai
fasilitator bagi siswa, khususnya dalam pemanfaatan berbagai sumber
belajar baik yang tersedia di sekolah maupun di luar sekolah. Guru harus memiliki
wawasan pengetahuan yang luas, mengenal teknologi, dan kreatif memanfaatkan
situasi lingkuangan alam maupun sosial untuk dijadikan sebagai
sumber belajar, disamping bahan-bahan pustaka.
Pengawas sebagai Pembina guru tentu harus lebih mumpuni dalam hal
ini, baik dari segi filosofi, konsep maupun aplikasi. Oleh karena itu materi ini
sengaja dirancang untuk membekali pengawas dalam melakukan supervisi
akademik, khususnya tentang sumber belajar.

B. Dimensi Kompetensi
Dimensi kompetensi yang diharapkan dibentuk pada akhir Diklat ini
adalah dimensi Kompetensi Supervisi Akademik.

C. Kompetensi yang Hendak Dicapai
Setelah mengikuti pelatihan ini pengawas diharapkan dapat membim2
bing guru dalam mendapatkan dan memanfaatkan sumber belajar dan fasilitas
pembelajaran/bimbingan tiap mata pelajaran dalam rumpun mata pelajaran
yang relevan di sekolah menengah.

D. Indikator Pencapaian
Setelah menyelesaikan materi pelatihan ini, pengawas diharapkan dapat:
1. Memahami ragam sumber belajar.

2. Memahami pemanfaatan sumber belajar yang tersedia di sekolah
3. Memahami pemanfaatan sumber belajar di luar sekolah, baik berupa lingkungan,
lembaga, personal, dan sebagainya.
4. Membimbing guru dalam memanfaatkan sumber-sumber belajar baik yang
tersedia di sekolah maupun di luar sekolah.

E. Alokasi Waktu

No. Materi Diklat Alokasi
1. Hakikat sumber belajar dan ragamnya 2 jam
2. Sumber-sumber belajar yang biasa tersedia di sekolah 2 jam
3. Sumber-sumber belajar yang tersedia di luar sekolah 3 jam

F. Skenario Pelatihan
1. Perkenalan
2. Penjelasan tentang dimensi kompetensi, indikator, alokasi waktu dan skenario
pendidikan dan pelatihan sumber belajar dan pemanfaatannya.
3. Pre-test
4. Eksplorasi pemahaman peserta berkenaan dengan sumber belajar dan pemanfaatannya
melalui pendekatan andragogi.
5. Penyampaian Materi Diklat:
a. Menggunakan pendekatan andragogi, yaitu lebih mengutamakan pengungkapan
kembali pengalaman peserta pelatihan, menganalisis, menyimpulkan,
dan mengeneralisasi dalam suasana diklat yang aktif, inovatif,
kreatif, efektif, menyenangkan, dan bermakna. Peranan pelatih
lebih sebagai fasilitator.
b. Diskusi tentang indikator keberhasilan sumber belajar dan pemanfaatannya.
c. Praktik/Simulasi penyusunan langkah-langkah pembinaan/supervisi
3
guru dalam pendayagunaan sumber-sumber belajar di dalam dan di
luar sekolah.
6. Post test.
7. Refleksi bersama antara peserta dengan pelatih mengenai jalannya pelatihan
sumber belajar dan pemanfaatannya.
8. Penutup


BAB II
MEDIA PEMBELAJARAN

A. Makna Media Pembelajaran

Kata media berasal dari bahasa latin dan merupakan bentuk jamak dari
kata medium yang secara harfiah dapat diartikan sebagai perantara atau pengantar.
Menurut Heinich, Molenda, dan Russel (dalam Instructional Media,
1990) diungkapkan bahwa media ”is a channel of communication. Derived
from the latin word for “between”, the term refers “to anything that carries
information between a source and a receiver.
Dari pendapat di atas, dapat dikembangkan beberapa pemahaman tentang
posisi media serta peran dan kontribusinya dalam kegiatan pembelajaran
ataupun kegiatan pendidikan dan pelatihan (diklat). Beberapa pemahaman itu
antara lain:

1) Media merupakan wadah dari pesan yang oleh sumber pesan atau pun penyalurnya
ingin diteruskan kepada sasaran atau penerima pesan tersebut.
2) Aplikasi media pembelajaran berpijak pada kaidah ilmu komunikasi, yang
antara lain “who says what in which Channels to whom in what effect”
a) Who, siapa yang menyatakan? (guru, widyaiswara, pengirim pesan).
b) What, pesan atau ide/gagasan apa yang disampaikan (dalam kegiatan
pembelajaran ini berarti bahan ajar atau materi yang akan disampaikan).
c) Which Channels, dengan saluran apa, media saluran apa, media atau
sarana apa, pesan itu ingin disampaikan.
d) To Whom, kepada siapa (sasaran, siswa, peserta didik)
e) What effect, dengan hasil atau dampak apa?
Dari unsur-unsur di atas, tampaknya yang menjadi target atau tujuan dari
suatu kegiatan pembelajaran adalah dampak atau hasil yang ingin dicapai
dalam suatu kegiatan pembelajaran. Dalam kajian kependidikan, istilah itu
dikenal dengan “meaningful learning experience”, yaitu suatu pengalaman
belajar yang bermakna sebagai hasil dari suatu kegiatan pembelajaran.
Proses belajar mengajar hakikatnya adalah proses komunikasi, guru berperan
sebagai pengantar pesan dan siswa sebagai penerima pesan. Pesan yang
dikirimkan oleh guru berupa isi/ ajaran yang dituangkan ke dalam simbol-simbol
komunikasi baik verbal (kata-kata & tulisan) maupun nonverbal.

Proses 5 ini dinamakan encoding. Penafsiran simbol-simbol komunikasi tersebut oleh
siswa dinamakan decoding. Namun bagaimanakah bentuk dan wujud dari media
atau perantara ini, hal tersebut harus disesuaikan dengan jenis dan karakteristik
materi yang akan disampaikan serta kemampuan guru tentang pengetahuannya
mengenai media. Sebagai contoh dalam proses pembelajaran maka
hal yang harus diperhatikan ketika penyampaian materi/informasi berlangsung
adalah keluasan, kedalaman dari materi pelajaran, selain itu juga waktu yang
diperlukan untuk mengajarkan materi tersebut, dan kondisi yang tersedia di
sekolah, sehingga media menjadi efektif digunakan dalam proses pembelajaran.
Selain sebagai perantara dalam interaksi belajar mengajar, media pembelajaran
memiliki peran sebagai alat bantu proses belajar mengajar yang efektif.
Proses belajar mengajar seringkali ditandai dengan adanya unsur tujuan,
bahan, metode, dan alat, serta evaluasi. Keempat unsur tersebut saling berinteraksi
dan berinterelasi. Metode dan media merupakan unsur yang tidak dapat
dipisahkan dari unsur pembelajaran yang lain. Metode dan alat, yang dalam
hal ini adalah media pembelajaran berfungsi untuk menyampaikan materi
pelajaran agar sampai kepada tujuan.
Media pembelajaran adalah suatu alat yang dapat membantu siswa supaya
terjadi proses belajar. Dengan menggunakan media pembelajaran diharapkan
siswa akan dapat memperoleh berbagai pengalaman nyata, sehingga materi
pelajaran yang disampaikan dapat diserap dengan mudah dan lebih baik.
Penggunaan media dalam pembelajaran didasarkan pada konsep bahwa
belajar dapat ditempuh melalui berbagai cara, antara lain: dengan mengalami
secara langsung (melakukan dan berbuat), dengan mengamati orang lain, dan
dengan membaca serta mendengar.

1. Kedudukan Media dalam Pembelajaran
Kedudukan media dalam pembelajaran sangat penting bahkan sejajar
dengan metode pembelajaran, karena metode yang digunakan dalam proses
pembelajaran biasanya akan menuntut media apa yang dapat diintegrasikan
dan diadaptasikan dengan kondisi yang dihadapi.
Jika kembali kepada paradigma pembelajaran sebagai suatu proses transaksional
dalam menyampaikan pengetahuan, keterampilan dan psikomotor,
6
maka posisi media jika diilustrasikan dan disejajarkan dengan proses komunikasi
yang terjadi. Berikut ini adalah gambar yang menunjukkan posisi dari
media dalam suatu proses yang bisa dikatakan sebagai proses komunikasi
dalam pembelajaran.

Dalam proses pembelajaran terdapat tingkatan proses aktivitas yang
melibatkan keberadaan media pembelajaran, yaitu:
a. Tingkat pengolahan Informasi
b. Tingkat penyampaian informasi
c. Tingkat penerimaan informasi
d. Tingkat pengolahan informasi
e. Tingkat respon dari peserta didik
f. Tingkat diagnosis dari pengajar
g. Tingkat penilaian
h. Tingkat penyampaian hasil.

Terjadinya pengalaman belajar yang bermakna tidak terlepas dari peran
media terutama dari kedudukan dan fungsinya. Secara umum media mempunyai
kegunaan:

a. Memperjelas pesan agar tidak terlalu verbalistis.
b. Mengatasi keterbatasan ruang, waktu, tenaga, dan daya indra.
c. Menimbulkan gairah belajar, interaksi lebih langsung antara murid dengan
sumber belajar.
d. Memungkinkan anak belajar mandiri sesuai dengan bakat dan kemampuan
visual, auditori & kinestetiknya.
e. Memberi rangsangan yang sama, mempersamakan pengalaman & menimbulkan
persepsi yang sama.
Peranan media dalam proses pengajaran sebagai:
a. Alat untuk memperjelas bahan pengajaran pada saat guru menyampaikan
pelajaran. Dalam hal ini media digunakan guru sebagai variasi penjelasan
verbal mengenai bahan pengajaran.
b. Alat untuk mengangkat atau menimbulkan persoalan untuk dikaji lebih

KOMUNIKATOR PESAN KOMUNIKAN
SALURAN/MEDIA
7
lanjut oleh para siswa dalam proses belajarnya. Paling tidak guru dapat
menempatkan media sebagai sumber pertanyaan atau stimulasi belajar
siswa.
c. Sumber belajar bagi siswa, artinya media tersebut berisikan bahan-bahan
yang harus dipelajari para siswa baik secara individual maupun kelompok.
Dengan demikian akan banyak membantu tugas guru dalam kegiatan mengajarnya.
Karakteristik dan kemampuan masing-masing media perlu diperhatikan
oleh guru agar mereka dapat memilih media mana yang sesuai dengan kondisi
dan kebutuhan. Sebagai contoh media audio, merupakan media auditif mengajarkan
topik-topik pembelajaran yang bersifat verbal seperti pengucapan
(pronounciation) bahasa asing. Untuk pengajaran bahasa asing media ini tergolong
tepat karena bila secara langsung diberikan tanpa media sering terjadi
ketidaktepatan dalam pengucapan pengulangan dan sebagainya. Pembuatan
media audio ini termasuk mudah, hanya membutuhkan alat perekam dan narasumber
yang dapat berbahasa asing, sementara itu pemanfaatannya menggunakan
alat yang sama pula.
Media pembelajaran harus meningkatkan motivasi peserta didik. Penggunaan
media mempunyai tujuan memberikan motivasi kepada pembelajar.
Selain itu media juga harus merangsang pebelajar mengingat apa yang sudah
dipelajari selain memberikan rangsangan belajar baru. Media yang baik juga
akan mengaktifkan pebelajar dalam memberikan tanggapan, umpan balik dan
juga mendorong peserta didik untuk melakukan praktik-praktik dengan benar.
Ada beberapa kriteria untuk menilai keefektifan sebuah media, antara
lain biaya, ketersediaan fasilitas pendukung, kecocokan dengan ukuran kelas,
keringkasan, kemampuan untuk dirubah, waktu dan tenaga penyiapan, pengaruh
yang ditimbulkan, kerumitan, dan kegunaan.
2. Kriteria Pemilihan Media
Kriteria pemilihan media antara lain:
a. Ketepatannya dengan tujuan pengajaran, artinya media pengajaran dipilih
atas dasar tujuan-tujuan instruksional yang telah ditetapkan.
b. Dukungan terhadap isi bahan pengajaran, artinya bahan pelajaran yang sifatnya
fakta, prinsip, konsep dan generalisasi sangat memerlukan bantuan
8
media agar lebih mudah dipahami siswa.
c. Kemudahan memperoleh media, artinya media yang diperlukan mudah
diperoleh, setidak-tidaknya mudah dibuat oleh guru pada waktu mengajar.
d. Keterampilan guru menggunakannya, artinya secanggih apapun sebuah
media apabila tidak tahu cara menggunakanya maka media tersebut tidak
memiliki arti apa-apa.
e. Tersedia waktu untuk menggunakannya, sehingga media tersebut dapat
bermanfaat bagi siwa selama pengajaran berlangsung.
f. Memilih media pembelajaran harus sesuai dengan taraf berfikir siswa, sehingga
makna yang terkandung di dalamnya dapat dipahami oleh para siswa.
3. Jenis-jenis Media Pembelajaran
Banyak cara diungkapkan untuk mengindentifikasi media serta mengklasifikasikan
karakterisktik fisik, sifat, kompleksitas, ataupun klasifikasi menurut
kontrol pada pemakai. Namun demikian, secara umum media bercirikan
tiga unsur pokok, yaitu: suara, visual, dan gerak. Menurut Rudy Brets, ada
7 (tujuh) klasifikasi media, yaitu:
a. Media audio visual gerak, seperti: film suara, pita video, film televisi.
b. Media audio visual diam, seperti: film rangkai suara, dsb.
c. Audio semi gerak seperti: tulisan jauh bersuara.
d. Media visual bergerak, seperti: film bisu.
e. Media visual diam, seperti: halaman cetak, foto, microphone, slide bisu.
f. Media audio, seperti: radio, telepon, pita audio.
g. Media cetak, seperti: buku, modul, bahan ajar mandiri.
Secara sederhana kehadiran media dalam suatu kegiatan pembelajaran
memiliki nilai-nilai praktis sebagai berikut:
1) Media pembelajaran dapat mengatasi keterbatasan pengalaman yang dimiliki
para siswa.
2) Media yang disajikan dapat melampaui batasan ruang kelas.
3) Media pembelajaran memungkinkan adanya interaksi antara peserta didik
dengan lingkungannya.
4) Media yang disajikan dapat menghasilkan keseragaman pengamatan siswa.
9
5) Secara potensial, media yang disajikan secara tepat dapat menanamkan
konsep dasar yang kongkrit, benar, dan berpijak pada realitas.
6) Media dapat membangkitkan keinginan dan minat baru.
7) Media mampu membangkitkan motivasi dan merangsang peserta didik
untuk belajar.
8) Media mampu memberikan belajar secara integral dan menyeluruh dari
yang kongkrit ke yang abstrak, dari seserhana ke rumit.
Dari semua itu, kemudian dikembangkan media dalam suatu konsepsi
teknologi pembelajaran yang memiliki ciri: (a) berorientasi pada sasaran, (b)
menerapkan konsep pendekatan sistem, dan (c) memanfaatkan sumber belajar
yang bervariasi. Sehingga aplikasi media dan teknologi pendidikan, bisa
merealisasikan suatu konsep“teaching less learning more”. Artinya secara
aktifitas fisik bisa saja aktifitas kegiatan guru di kelas dikurangi, karena ada
sebagian tugas guru yang didelegasikan pada media, namun tetap mengusung
tercapainya produktifitas belajar siswa.
Jenis media dapat dikelompokkan sebagai berikut.
KELOMPOK MEDIA MEDIA INSTRUKSIONAL
1. Audio pita audio (rol atau kaset)
piringan audio
radio (rekaman siaran)
2. Cetak buku teks terprogram
buku pegangan/manual
buku tugas
3. Audio – Cetak buku latihan dilengkapi kaset
gambar/poster (dilengkapi audio)
4. Proyek Visual Diam film bingkai (slide)
film rangkai (berisi pesan verbal)
5. Proyek Visual Diam dengan
Audio
film bingkai (slide) suara
film rangkai suara
6. Visual Gerak film bisu dengan judul (caption)
7. Visual Gerak dengan Audio film suara
video/vcd/dvd
8. Benda
benda nyata
model tirual (mock up)
9. Komputer
1. media berbasis komputer; CAI (Computer Assisted
Instructional) & CMI (Computer Managed
Instructiona
10
B. Prosedur Pemilihan Media
Ada beberapa prinsip yang perlu Anda perhatikan dalam pemilihan media,
meskipun caranya berbeda-beda. Namun demikian ada hal yang seragam
bahwa setiap media memiliki kelebihan dan kelemahan yang akan memberikan
pengaruh kepada afektifitas program pembelajaran. Sejalan dengan hal
ini, pendekatan yang ditempuh adalah mengkaji media sebagai bagian integral
dalam proses pendidikan yang kajiannya akan sangat dipengaruhi oleh:
Pertama, kompetensi dasar dan indikator apa yang akan dicapai dalam
suatu kegiatan pembelajaran ataupun diklat. Dari kajian kompetensi dasar dan
indikator tersebut bisa dianalisis media apa yang cocok guna mencapai tujuan
tersebut.
Kedua, materi pembelajaran (instructional content), yaitu bahan atau
kajian apa yang akan diajarkan pada program pembelajaran tersebut. Pertimbangan
lainnya, dari bahan atau pokok bahasan tersebut sampai sejauh mana
kedalaman yang harus dicapai, dengan demikian kita bisa mempertimbangkan
media apa yang sesuai untuk penyampaian bahan tersebut.
Ketiga, familiaritas media dan karakteristik siswa/guru, yaitu mengkaji
sifat-sifat dan ciri media yang akan digunakan. Hal lainnya karakteristik siswa,
baik secara kuantitatif (jumlah) ataupun kualitatif (kualitas, ciri, dan kebiasaan
lain) dari siswa terhadap media yang akan digunakan.
Keempat, adanya sejumlah media yang bisa diperbandingkan karena pemilihan
media pada dasarnya adalah proses pengambilan keputusan dari sejumlah
media yang ada ataupun yang akan dikembangkan.
Bila kita akan merancang media, seyogyanya melalui tiga tahap utama,
yaitu:
Pertama, define (pembatasan), dalam fase ini menyangkut rumusan tujuan,
rancangan media apa yang akan dikembangkan, beberapa persiapan awal
dalam perancangan media yang menyangkut: bahan, materi, dana, serta aspek
perancangan lainnya.
Kedua, develop (pengembangan), dalam fase ini sudah dimulai proses
pembuatan media yang akan dikembangkan, sesuai dengan fase pertama.
Ketiga, evaluation (evaluasi), yaitu fase terakhir untuk menilai media
yang sudah dikembangkan/dibuat, setelah melalui tahap uji coba, revisi, kajian
dengan pihak lain.
11
Selain pertimbangan di atas, dalam memilih media pembelajaran yang tepat
dapat kita rumuskan dalam satu kata ACTION, yaitu akronim dari access,
cost, technology, interactivity, organization, dan novelty.
1. Access
Kemudahan akses menjadi pertimbangan pertama dalam memilih media.
Apakah media yang kita perlukan itu tersedia, mudah, dan dapat dimanfaatkan
oleh murid? Misalnya, kita ingin menggunakan media internet, perlu dipertimbangkan
terlebih dahulu apakah ada saluran untuk koneksi ke internet?
Akses juga menyangkut aspek kebijakan, misalnya apakah murid diijinkan
untuk menggunakannya? Komputer yang terhubung ke internet jangan hanya
digunakan untuk kepala sekolah, tapi juga guru, dan yang lebih penting untuk
murid. Murid harus memperoleh akses.
2. Cost
Biaya juga harus dipertimbangkan. Banyak jenis media yang dapat menjadi
pilihan kita. Media canggih biasanya mahal. Namun, mahalnya biaya itu
harus kita hitung dengan aspek manfaatnya. Semakin banyak yang menggunakan,
maka unit cost dari sebuah media akan semakin menurun.
3. Technology
Mungkin saja kita tertarik kepada satu media tertentu, namun perlu diperhatikan
apakah teknologinya tersedia dan mudah menggunakannya? Misalnya
kita ingin menggunakan media audio visual di kelas. Perlu kita pertimbangkan,
apakah ada listrik, voltase listrik cukup dan sesuai?
4. Interactivity
Media yang baik adalah yang dapat memunculkan komunikasi dua arah
atau interaktivitas. Setiap kegiatan pembelajaran yang anda kembangkan tentu
saja memerlukan media yang sesuai dengan tujuan pembelajaran tersebut.
5. Organization
Pertimbangan yang juga penting adalah dukungan organisasi. Misalnya,
apakah pimpinan sekolah atau yayasan mendukung? Bagaimana pengorganisasiannya.
Apakah di sekolah ini tersedia satu unit yang disebut pusat sumber
belajar?
6. Novelty
Kebaruan dari media yang dipilih juga harus menjadi pertimbangan. Media
yang lebih baru biasanya lebih baik dan lebih menarik bagi siswa.
12
Pemilihan media juga dapat dilakukan dengan membuat chek list sebagai
berikut:
a. Apakah materinya penting dan berguna bagi siswa?
b. Apakah dapat menarik minat siswa untuk belajar?
c. Apakah ada kaitannya dan mengena secara langsung dengan tujuan pembelajaran?
d. Bagaimana format penyajiannya diatur? Apakah memenuhi tata urutan
yang teratur?
e. Bagaimana dengan materinya, mutakhir dan authentik?
f. Apakah konsep dan kecermatannya terjamin?
g. Apakah isi dan presentasinya memenuhi standar?
h. Apakah penyajiannya objektif?
i. Apakah bahannya memenuhi standar kualitas teknis?
j. Apakah bahan tersebut sudah diuji coba?
C. Karakteristik Media
Berdasarkan klasifikasinya karakteristik masing-masing media pembelajaran
dapat dijelaskan sebagai berikut.
1. Media Grafis (Visual Diam)
Media cetakan dan grafis dalam proses belajar mengajar paling banyak
dan paling sering digunakan. Media ini termasuk kategori media visual non
proyeksi yang berfungsi untuk menyalurkan pesan dari pemberi ke penerima
pesan (dari guru kepada siswa). Pesan yang dituangkan dalam bentuk tulisan,
huruf-huruf, gambar-gambar dan simbol-simbol yang mengandung arti disebut
“Media Grafis”. Media grafis termasuk media visual diam, sebagaimana
halnya dengan media lain. Media grafis mempunyai fungsi untuk menyalurkan
pesan dari guru kepada siswa. Saluran yang dipakai menyangkut indera
penglihatan yang dituangkan ke dalam simbol-simbol yang menarik dan jelas.
Media ini termasuk media yang relatif murah dalam pengadaannya bila ditimbang
dari segi biaya.
13
Macam-macam media grafis adalah: gambar/foto, diagram, bagan, grafik,
poster, media cetak, dan buku.
a. Gambar/Foto.
Media grafis paling umum digunakan dalam proses belajar mengajar,
karena merupakan bahasa yang umum dan dapat mudah dimengerti oleh peserta
didik.
Kemudahan mencerna media
grafis karena sifatnya
visual konkrit menampilkan
objek sesuai dengan
bentuk dan wujud aslinya
sehingga tidak verbalistik.
14
Kelebihan dan Kelemahan Gambar/Foto
Media gambar/foto memiliki beberapa kelebihan antara lain:
(1) Sifatnya kongkrit, lebih realistik dibandingkan dengan media verbal.
(2) Dapat memperjelas suatu masalah dalam bidang apa saja, baik untuk usia
muda maupun tua.
(3) Murah harganya dan tidak memerlukan peralatan khusus dalam penyampaiannya.
Kecuali beberapa kelebihan di atas, media gambar/foto juga memiliki
kelemahan sebagai berikut.
(1) Gambar/foto hanya menekankan persepsi indera mata.
(2) Ukurannya sangat terbatas untuk kelompok besar.
b. Diagram.
Diagram merupakan gambar yang sederhana yang menggunakan garisgaris
dan simbol-simbol, secara garis besar dan menunjukkan hubungan antar
komponennya atau proses yang ada pada diagram tersebut. Isinya pada umumnya
berupa petunjuk-petunjuk. Diagram ini untuk menyederhanakan yang
komplek-komplek sehingga dapat memperjelas penyajian pesan.
Diagram bersifat:
1) Simbolis dan abstrak, kadang-kadang sulit dimengerti.
2) Untuk dapat membaca diagram diperlukan keahlian khusus dalam bidangnya
tentang isi diagram tersebut.
3) Walaupun sulit dimengerti, karena sifatnya yang padat diagram dapat
memperjelas arti.
15
Contoh Diagram
Ciri-ciri diagram yang baik.
(a) Benar, diagram rapih dan disertai dengan keterangan yang jelas.
(b) Cukup besar dan ditempatkan secara strategis.
(c) Penyusunannya disesuaikan dengan pola baca yang umum dari atas ke bawah
atau dari kiri ke kanan.
c. Bagan.
Bagan merupakan media yang berisi tentang gambar-gambar keteranganketerangan,
daftar-daftar dan sebagainya. Bagan digunakan untuk memperagakan
pokok-pokok isi bahan secara jelas dan sederhana antara lain: perkembangan,
perbandingan, struktur, organisasi. Jenis-jenis media bagan antara
lain: Tree chart, Flow chart
16
Contoh Bagan (Chart)
d. Grafik (Graph)
Grafik adalah penyajian kembali data-data yang berupa angka-angka
dalam bentuk visual simbolis (lambang visual). Jenis grafik di antaranya:
1) Grafik Garis (Line Graph), yaitu grafik yang menggambarkan data secara
tepat, dapat menggambarkan hubungan antara dua kelompok data dan
dapat digunakan untuk data-data yang kontinyu.
2) Grafik Batang. Dalam grafik batang jumlah data dipertunjukkan dalam
bentuk gambar. Hal yang perlu diperhatikan grafik gambar ini adalah:
a) Simbol gambar yang dipakai sendiri (self Explanatory).
b) Jumlah data yang diperlihatkan melalui jumlah gambar.
c) Jumlah besar kecilnya gambar akan dapat dibaca apabila di bawah
gambar tersebut diberikan angka yang sebenarnya.
17
Contoh Grafik
2. Media Display
a. Papan Tulis/White Board
Salah satu media penyajian untuk proses pembelajaran yang sering digunakan
adalah: “papan tulis, dan white board”. Kedua media ini dapat dipakai
untuk penyajian: tulisan-tulisan, sket-sket gambar-gambar dengan menggunakan
kapur/spidol white board baik yang berwarna ataupun tidak berwarna.
Maksud dari warna tersebut adalah agar tulisan: lebih jelas, menarik dan
dapat berkesan bagi peserta yang akan menerimanya.
Syarat-syarat papan tulis yang baik adalah:
1) Papan tulis harus buram, tidak boleh licin atau mengkilat.
2) Warna dasar papan tulis harus lebih gelap dari alat tulis yang dipakai.
3) Warna dasar white board putih.
4) Ukuran yang ideal adalah 90 x 120 cm atau 90 x 200 cm.
5) Untuk penggunaan papan tulis atau white board diperlukan perhatian yai18
tu:
a) Tulisan/gambar dipapan harus jelas dan bersih.
b) Hindari agar papan tulis tidak terlalu penuh dengan tulisan atau gambargambar
sehingga sulit untuk dimengerti peserta.
c) Hapuskan tulisan/gambar tidak diperlukan lagi.
d) Tinggalkan papan tulis dalam keadaan bersih.
b. Papan Flanel
Papan flanel adalah media visual yang efektif untuk menyajikan pesanpesan
tertentu kepada sasaran didik. Papan berlapis kain flanel ini dapat dilipat
sehingga praktis. Gambar-gambar yang akan disajikan dapat dipasang dan
dilepas dengan mudah, sehingga dapat dipakai berkali-kali. Selain untuk menempel
gambar-gambar, dapat pula dipakai menempelkan huruf dan angkaangka.
Karena penyajian seketika, kecuali menarik perhatian siswa, penggunaan
papan flanel dapat membuat sajian effesien.
Beberapa kelemahan Papan Flanel adalah sebagai berikut.
1) Walaupun bahan flanel dapat menempel pada sesamanya, tetapi hal ini
tidak menjamin pada “bahan yang berat”, karena dapat lepas bila ditempelkan.
2) Bila terkena angin sedikit saja, bahan yang ditempel pada papan flanel
tersebut akan berhamburan jatuh.
Sedangkan kelebihan Papan Flanel adalahsebagai berikut.
1) Karena kesederhanaan papan flanel dapat dibuat sendiri oleh guru.
2) Dapat dipersiapkan terlebih dahulu dengan teliti.
3) Dapat memusatkan perhartian siswa terhadap suatu masalah yang dibicarakan.
4) Dapat menghemat waktu pembelajaran karena segala sesuatunya sudah
dipersiapkan dan peserta didik dapat melihat sendiri secara langsung.
c. Flip Chart
Peta/flip cahrt adalah lembaran kertas yang berisikan bahan pelajaran,
yang tersusun rapi dan baik. Penggunaan ini adalah salah satu cara guru dalam
menghemat waktunya untuk menulis di papan tulis. Lembaran kertas
yang sama ukurannya dijilid jadi satu secara baik agar lebih bersih dan baik.
Penyajian informasi ini dapat berupa: (1) gambar-gambar, (2) huruf-huruf,
19
(3) diagram, dan (4) angka-angka.
Peta tersebut harus disesuaikan dengan jumlah dan jarak maksimum siswa
melihat peta lipat tersebut dan direncanakan tempat yang sesuai di mana
dan bagaimana peta tersebut ditempatkan.
Contoh Flip Chart
Cara Membuat Flip Chart
Chart tersebut harus disusun/dijilid yang serasi agar mudah untuk penyimpanannya
dan untuk menghindarkan kerusakan chart. Adapun cara untuk
mengkontruksi peta/chart adalah sebagai berikut:
1) Lubangi kertas chart sedemikian rupa agar mudah dijadikan satu/dijilid.
2) Buatkan dua bingkai kayu yang diikat bersama dengan kertas peta oleh
dua baut. Pada ujung-ujung bingkai dibuat lubang tempat tali penggantung
pita.
3) Peta dengan bingkai kayu atau besi dijadikan satu dengan pengikat baut.
Peta ini dapat digantungkan pada papan tulis/white board, yang tidak menempel
tembok/dinding.
4) Penempatan peta dapat juga digantungkan pada penyangga dengan 3 kaki.
5) Cara lain untuk mengikat dan menyangga peta adalah dengan menggunakan
papan triplek/hardboard. Papan display lainnya antara lain: papan tikar,
felt board (papan berlubang).
20
3. Gambar Mati yang Diproyeksikan
Dengan menggunakan proyektor, informasi
yang akan disampaikan dapat diproyeksikan
ke layar, sehingga informasi
be-rupa: tulisan, gambar, bagan dll.
akan menjadi lebih besar dan lebih jelas
dilihat oleh siswa. Penggunaan media
proyeksi ini lebih menguntungkan, sebab
indera pendengaran dan penglihatan
akan sama-sama diaktifkan melalui sebuah
media transparansi yang telah disiapkan.
Gambar mati (still picture) adalah
berupa: gambar, foto, diagram, tabel, ilustrasi dll., baik berwarna atau pun
hitam = putih yang relatif berukuran kecil, agar gambar tersebut dapat dilihat
atau disaksikan dengan jelas oleh seluruh siswa di dalam kelas dengan jalan
diproyeksikan ke suatu layar (screen).
Jenis-jenis media gambar mati yang diproyeksikan yaitu: (1) Overhead
Projector (OHP) dan Overhead Transparance (OHT); (2) Slides/film bingkai;
(3) Film strip/film rangkai; (4) Epidiascope; (5) Komputer dan; (6) multimedia
projector.
a. Over Head Projector/Over Head Transparansi (OHP/OHT)
Pada dasarnya OHP/OHT berguna untuk memproyeksikan transparan
ke arah layar yang jaraknya relatip pendek, dengan hasil gambar/tulisan yang
cukup besar. Proyektor ini direncanakan dibuat untuk dapat digunakan oleh
guru di depan kelas dengan penerangan yang normal, sehingga tetap terjadi
komunikasi antara guru dengan siswa.
1) Kegunaan OHP/OHT.
OHP/OHT secara umum digunakan untuk:
a) Pengganti papan tulis dengan menggunakan pen khusus yang dituliskan
pada lembaran transparan/plastik (acetate) atau gulungan transparan
(scroll).
b) Tempat menunjukkan/memproyeksikan transparan yang telah disiapkan
sebelumnya.
21
c) Tempat menunjukkan bayangan (silhoutte) suatu benda.
d) Tempat menunjukkan model-model barang kecil baik dalam bentuk
gerak atau diam.
e) Untuk mendemonstrasikan suatu percobaan. Contoh bagaimana gaya
magnit bekerja terhadap serbuk besi.
f) Untuk menunjukkan diagram aliran suatu sistem tertentu. Contoh dengan
filter khusus dapat ditunjukkan diagram aliran suatu cairan.
g) Untuk memperlihatkan suatu sistem tertentu. Contoh kecepatan membukanya
rana pada alat photo/tustel model S L R (single lens reflect).
2) Jenis-jenis OHP/OHT
Overhead projector sampai saat ini ada 2 macam, yaitu:
a) OHP type standard (standar lecture haal type).
b) OHP type portable (dapat dilihat dan ringan, mudah dibawa).
3) Bagian-bagian Pokok OHP dan Cara Kerjanya
Saat ini walaupun banyak type dan merk OHP yang dipergunakan, namun
bagian-bagian pokok dari OHP tersebut pada prinsipnya sama. Di bawah
ini akan dijelaskan bagian pokok dan cara kerja dari OHP.
a) Kepala Proyektor (Proyector Head). Kepala Projektor adalah bagian
yang berisi lensa-lensa objektif dan kaca pemantul untuk mengarahkan sinar
ke arah layar.
b) Pengontrol Fokus (Focus Cotrol). Dengan memutar-mutar bagian ini
kepala proyektor akan bergerak naik/turun untuk memperjelas (memfokus)
gambar pada layar).
c) Tempat transparan/benda yang akan diproyeksikan (projection stage).
d) Lensa fresnel (fresnel lens), yaitu kondensor khusus yang berguna untuk
memusatkan cahaya yang memancar dari lampu ke arah kepala proyeksi.
e) Scroll atau rol penggulung transparan.
f) Lampu (projection lamp).
g) Pemantul (reflector).
h) Kipas pendingin (van).
i) Rumah/badan proyektor.
j) Switch/saklar pengatur untuk menghidupkan dan mematikan lampu dan
22
motor pada kipas.
Dari bagian-bagian pokok di atas dapat dijelaskan cara kerja OHP type
model standard dan model portable, seperti pada gambar di bawah ini.
4) Posisi/Letak Layar Dengan OHP.
Posisi layar dan letaknya harus diatur, sehingga gambar pada layar tidak
miring atau sebagian mengecil. Hal ini dapat dilakukan dengan mengatur sinar
yang dipancarkan dari proyektor jatuh tegak lurus pada layar. Apabila penyimpanan
proyektor tidak sejajar dengan layar akan menimbulkan distorsi
bayangan. Ada dua kemungkinan distorsi yaitu distorsi horizontal dan distorsi
vertikal. Distorsi vertikal disebabkan penyimpanan proyektor terlalu tinggi
dari layar (distorsi ke bawah) atau terlalu ke bawah dari posisi layar (distorsi
ke atas). Sedangkan distorsi horizontal disebabkan oleh penyimpanan proyektor
terlalu ke kiri atau terlalu ke kanan dari posisi layar.
5) Teknik-Teknik Penyajian
a) Pada waktu penggunaan OHP, guru dapat melakukannya sambil berdiri.
Pada waktu posisi berdiri guru jangan menutup OHP terhadap layar mau
pun menghalangi pandangan siswa terhadap layar.
b) Bila switch/saklar kipas pendinginan dan lampu ditekan, segera sinar OHP
menimpa layar. Aturlah posisi yang sebaik mungkin agar gambar pada
layar tidak miring atau kurang datar/simetris.
Projector head
Focus Control
Tempat
Transparan
Lensa fresnel
23
c) Pada waktu menjelaskan pada transparan di OHP, gunakan penunjuk
(pointer) atau pensil ke arah bagian-bagian penting yang sedang disajikan.
d) Bila selesai tiap tahap penyajian penggunaan OHP dan guru akan menjelaskan
lebih lanjut, matikan terlebih dahulu OHP dan alihkan perhatian
siswa dari layar kembali ke guru.
e) Penjelasan lebih lanjut mengenai hal-hal penting perlu ditekankan pada
waktu penyajian. Hal-hal yang rumit (complex) perlu disajikan dengan
menggunakan teknik berlapis (overlay) atau memakai penutup (masking)
dan membukanya sedikit demi sedikit.
f) Presentasi dengan menggunakan OHP, untuk membuat penampilan yang
lebih menarik.
6) Penggunaan OHP
a) Dengan alat penunjuk
Alat penunjuk bisa menggunakan pensil atau pointer. Guru dapat menekankan
perhatian siswa pada hal-hal yang dipentingkan. Penunjuk diletakkan
di atas transparansi bukan layar.
b) Menulis langsung
Menulis di atas transparan pada waktu menyajikan sangat menarik perhatian.
Pada transparan yang telah disiapkan sebelumnya, dapat ditambahkan
tulisan, pada waktu penyajian dengan pen khusus. Pen yang digunakan
mempunyai spesifikasi warna, ukuran (kecil, sedang, dan besar) dan
jenis (permanen dan solubel).
c) Menunjukkan dengan membuka sedikit demi sedikit.
Teknik ini penting untuk mengontrol siswa agar hanya memperhatikan
masalah yang disajikan secara urut, dengan menutup bagian yang belum
diproyeksikan.
d) Menunjukkan benda dengan ukuran kecil.
Dapat juga menjelaskan/menunjukkan roda gigi yang ukurannya terlalu
kecil, sehingga dapat didemonstrasikan putaran roda gigi.
e) Penyajian dengan tumpang tindih (Overlay).
Konsep ide yang rumit dapat disederhanakan dengan cara lembar transparan
pertama memuat ide dasar. Ide keterangan berikutnya dapat ditumpangkan
pada transparan pertama, sehingga akan memperjelas dari urut24
an penyajian tersebut.
f) Menghidupkan dan mematikan
Dengan men-switch saklar on-off yang terdapat pada OHP perhatian siswa
akan dapat diarahkan, bila mematikan lampu siswa akan mengarahkan
perhatian kepada guru dan bila lampu dihidupkan kembali perhatian
siswa akan terbawa pada layar.
7) Membuat Overhead Transparansi (OHT)
Dalam membuat transparan banyak cara yang dipergunakan dari yang
sederhana sampai yang rumit atau memakai alat pembuat/untuk mengkopi
transparan yang disebut “transparan maker” cara pembuatan transparan adalah
sebagai berikut.
a) Langsung pada Transparan (acatate)
Bahan dasar transparan berupa sejenis plastik tipis yang disebut acetate
dijual di pasaran dalam kemasan 100 lembar dengan tebal 2 atau 3 macam
yang berbeda. Pada umumnya yang dipakai dengan DIN-A.4, 210 x 297 mm
dengan tebal 0,08 mm. Pembuatan langsung pada transparan dapat dikerjakan
2 cara yaitu:
(1) Menulis/melukis dengan pen khusus yang berwarna warni (Transparance
pen)
(2) Menggunakan set huruf (lettering set) atau sering disebut rugos.
Dalam praktiknya dua cara di atas dikombinasikan atau dipakai secara
bersama untuk menghasilkan transparan yang telah direncanakan terlebih dahulu.
b) Membuat Transparan dengan Cara Reproduksi
Reproduksi adalah memperbanyak gambar/tulisan/isi yang persis sama.
Alat reproduksi yang banyak dipakai adalah mesin foto copy dan termofax.
Untuk membuat transparan jenis ini diperlukan persiapan-persiapan sebagai
berikut:
(1) Membuat lembar asli (original) yang umumnya disebut “Master” ditulis/
diberi ilustrasi dengan alat tulis yang berkadar karbon tinggi, misalnya
tinta cina. Untuk membuat transparan pada bahan asetat biasanya masker
25
harus dibuat dengan karbon khusus (master dapat di foto copy).
(2) Siapkan mesin pembuat transparan (transparency copy maker). Mesin
pembuat transparan bentuknya hampir sama dengan mesin di photo copy
biasa.
(3) Siapkan film pembuat transparan (tersedia dalam beberapa jenis dan warna).
Film ini ada 2 (dua) macam yaitu:
(a) Film proses panas ada 2 permukaan, yang mengkilap dan buram. Untuk
siap masuk mesin transparan, bagian buram harus ditempelkan
langsung pada gambar/tulisan pada master. Pada produk 3 M biasanya
diberi tanda potongan sudut pada transparannya.
(b) Asetat biasa dengan menggunakan karbon khusus. Master dibuat pada
suatu kertas merupakan tindasan dengan karbon khusus dari gambar/
ilustrasi yang direncanakan.
(4) Pemasangan pada mesin, seperti untuk pemasangan film.
Atur tombol pengatur buat penyinaran (yang mempengaruhi gelap/terangnya
hasil photo copy (pada umumnya pada kedudukan menengah). Hidupkan
mesin/motornya, coba lebih dahulu dengan guntingan film transparan
kecil untuk mengecek hasilnya/kerjanya.
4. Media Audio
Media audio adalah bahan suara (audio) yang direkam dalam format fisik
tertentu. Secara fisik jenis media yang tergolong sebagai media audio adalah
kaset audio dan disk audio. Jenis media ini pada dasarnya dapat digunakan
dalam proses pembelajaran yang berkaitan dengan bunyi, suara, serta bahasa.
Dalam jurusan seni dan bahasa, media audio dapat memberikan kontribusi
yang positif jika diintegrasikan ke dalam proses pembelajaran. Media audio
merupakan media yang bersifat auditif, indera pendengaran lebih dominan digunakan
ketika menggunakan media ini.
Media ini hanya terbatas pada pengoptimalan media pendengaran saja.
Meskipun terbatas dalam pengoptimalan panca indera, namun bukan berarti
media ini memiliki manfaat sama sekali. Manfaat media audio dalam pengajaran
menurut Sudjana dan Rifai (2005: 155) terutama dirasakan benar dalam
melatih berbahasa asing, music literary, belajar jarak jauh, dan paket belajar
atau modul untuk tujuan belajar mandiri.
26
Menurut Heinich, Molenda, & Russell, (1990: 320) “tutorial (pembelajaran)
audio” adalah pendekatan teknologis biasa yang mempunyai kualitas
sama seperti unit modul, mempersyaratkan partisipasi aktif dari siswa dan
memberikan umpan balik serta koreksi yang cepat (segera).” Pembelajaran
dengan menggunakan media audio digunakan sebagai upaya untuk memperkenalkan
variasi metode dengan menggunakan peralatan teknologis, misalnya
radio interaktif, khususnya dalam belajar bebas (mandiri) yang mengandalkan
rekaman audio langsung dari tutor atau instruktur.
Karakteristik media audio umumnya berhubungan dengan segala kegiatan
melatih keterampilan yang berhubungan dengan aspek-aspek keterampilan
mendengarkan. Kalau diklasifikasikan, kecakapan-kecakapan yang bisa
dicapai antara lain:
a. Pemusatan perhatian dan mempertahankan pemusatan perhatian.
b. Mengikuti pengarahan.
c. Digunakan untuk melatih daya analisis siswa dari apa yang mereka dengar.
d. Perolehan arti dari suatu konteks.
e. Memisahkan kata atau informasi yang relevan dan tidak relevan.
f. Mengingat dan mengemukakan kembali ide atau bagian-bagian dari cerita
yang mereka dengar.
Dari segi sifatnya yang auditif, media audio memiliki beberapa kelemahan.
Kelemahan dari media audio antara lain:
a. Memerlukan suatu pemusatan pengertian pada suatu pengalaman yang tetap
dan tertentu, sehingga pengertiannya harus didapat dengan cara belajar
secara khusus.
b. Media audio menampilkan simbol digit dan analog dalam bentuk auditif
adalah abstrak, sehingga pada hal-hal tertentu memerlukan bantuan visual.
c. Karena abstrak, tingkatan pengertiannya hanya bisa dikontrol melalui tingkatan
penguasaan perbendaharaan kata-kata atau bahasa, serta susunan
kalimat.
d. Media ini hanya mampu melayani secara baik bagi mereka yang sudah
mempunyai kemampuan dalam berfikir abstrak.
e. Penampilan melalui ungkapan perasaan atau simbol analog lainnya dalam
bentuk suara harus disertai dengan perbendaharaan pengalaman analog
tersebut pada si penerima. Bila tidak, bisa terjadi ketidakmengertian dan
27
bahkan kesalahpahaman.
Media audio juga merupakan media yang sangat fleksibel, relatif murah,
praktis dan ringkas serta mudah dibawa (portable). Media ini dapat dipergunakan
baik untuk kepentingan belajar kelompok (group learning) maupun belajar
individual. Dengan karakteristik yang di-milikinya, media audio sangat
efektif untuk digunakan pada berbagai bidang studi bahasa, drama dan seni
musik.

5. Media Komputer
Komputer merupakan jenis media yang secara virtual dapat menyediakan
respon yang segera terhadap hasil belajar yang dilakukan oleh siswa. Lebih
dari itu, komputer memiliki kemampuan menyimpan dan memanipulasi
informasi sesuai dengan kebutuhan. Perkembangan teknologi yang pesat saat
ini telah memungkinkan komputer memuat dan menayangkan beragam bentuk
media di dalamnya. Dalam hal ini Heinich, Molenda, & Russel (1996: 228)
mengemukakan bahwa :
“…It has ability to control and integrate a wide variety of media – still
pictures, graphics and moving images, as well as printed information. The
computer can also record, analyze, and react to student responses that are
typed on a keyboard or selected with a mouse“.
Saat ini teknologi komputer tidak lagi hanya digunakan sebagai sarana
komputasi dan pengolahan kata (word processor) tetapi juga sebagai sarana
belajar multi media yang memungkinkan peserta didik membuat desain dan
rekayasa suatu konsep dan ilmu pengetahuan. Sajian multimedia berbasis komputer
dapat diartikan sebagai teknologi yang mengoptimalkan peran komputer
sebagai sarana untuk menampilkan dan merekayasa teks, grafik, dan suara
dalam sebuah tampilan yang terintegrasi. Dengan tampilan yang dapat mengkombinasikan
berbagai unsur penyampaian informasi dan pesan, komputer
dapat dirancang dan digunakan sebagai media teknologi yang efektif untuk
mempelajari dan mengajarkan materi pembelajaran yang relevan misalnya
rancangan grafis dan animasi.
Multimedia berbasis komputer dapat pula dimanfaatkan sebagai sarana
dalam melakukan simulasi untuk melatih keterampilan dan kompetensi tertentu.
Misalnya, penggunaan simulator kokpit pesawat terbang yang memungkin28
kan peserta didik dalam akademi penerbangan dapat berlatih tanpa menghadapi
risiko jatuh. Contoh lain dari penggunaan multimedia berbasis komputer
adalah tampilan multimedia dalam bentuk animasi yang memungkinkan mahasiswa
pada jurusan eksakta, biologi, kimia, dan fisika melakukan percobaan
tanpa harus berada di laboratorium.
Perkembangan teknologi komputer saat ini telah membentuk suatu jaringan
(network) yang dapat memberi kemungkinan bagi siswa untuk berinteraksi
dengan sumber belajar secara luas. Jaringan komputer berupa internet
dan web telah membuka akses bagi setiap orang untuk memperoleh informasi
dan ilmu pengetahuan terkini dalam bidang akademik tertentu. Diskusi dan
interaksi keilmuan dapat terselenggara melalui tersedianya fasilitas internet
dan web di sekolah.
Penggunaan internet dan web tidak hanya dapat memberikan kontribusi
yang positip terhadap kegiatan akademik siswa tapi juga bagi guru. Internet
dan web dapat memberi kemungkinan bagi guru untuk menggali informasi
dan ilmu pengetahuan dalam mata pelajaran yang menjadi bidang ampuannya.
Melalui penggunaan internet dan web, guru akan selalu siap mengajarkan ilmu
pengetahuan yang mutakhir kepada siswa. Hal ini tentu saja menuntut kemampuan
guru itu sendiri untuk selalu giat mengakses website dalam bidang
yang menjadi keahliannya. Hal ini sejalan dengan definisi Pannen (2003) mengenai
media dan teknologi pembelajaran di sekolah dalam arti luas yang
mencakup perangkat keras (hardware), perangkat lunak (software), dan sumberdaya
manusia (humanware) yang dapat digunakan untuk memperkaya pengalaman
belajar siswa.
Media dalam pembelajaran memiliki fungsi sebagai alat bantu untuk
memperjelas pesan yang disampaikan guru. Media juga berfungsi untuk pembelajaran
individual dimana kedudukan media sepenuhnya melayani kebutuhan
belajar siswa (pola bermedia).
Beberapa bentuk penggunaan komputer media yang dapat digunakan
dalam pembelajaran meliputi:
a). Penggunaan Multimedia Presentasi.
Multimedia presentasi digunakan untuk menjelaskan materi-materi yang
sifatnya teoretis, digunakan dalam pembelajaran klasikal dengan group bela29
jar yang cukup banyak di atas 50 orang. Media ini cukup efektif sebab menggunakan
multimedia projector yang memiliki jangkauan pancar cukup besar.
Kelebihan media ini adalah menggabungkan semua unsur media seperti teks,
video, animasi, image, grafik dan sound menjadi satu kesatuan penyajian, sehingga
mengakomodasi sesuai dengan modalitas belajar siswa. Program ini
dapat mengakomodasi siswa yang memiliki tipe visual, auditif maupun kinestetik.
Hal ini didukung oleh teknologi perangkat keras yang berkembang cukup
lama, telah memberikan kontribusi yang sangat besar dalam kegiatan presentasi.
Saat ini teknologi pada bidang rekayasa komputer menggantikan peranan
alat presentasi pada masa sebelumnya. Penggunaan perangkat lunak perancang
presentasi seperti Microsoft power point yang dikembangkan oleh
Microsoft inc" Corel presentation yang dikembangkan oleh Coral inc" hingga
perkembangan terbaru perangkat lunak yang dikembangkan Macromedia
inc, yang mengembangkan banyak sekali jenis perangkat lunak untuk mendukung
kepentingan tersebut.
Berbagai perangkat lunak yang memungkinkan presentasi dikemas dalam
bentuk multimedia yang dinamis dan sangat menarik. Perkembangan perangkat
lunak tersebut didukung oleh perkembangan sejumlah perangkat
keras penunjangnya. Salah satu produk yang paling banyak memberikan pengaruh
dalam penyajian bahan presentasi digital saat ini adalah perkembangan
monitor, kartu video, kartu audio serta perkembangan proyektor digital (digital
image projector) yang memungkinkan bahan presentasi dapat disajikan secara
digital untuk bermacam-macam kepentingan dalam berbagai kondisi dan
situasi, serta ukuran ruang dan berbagai karakteristik audience. Tentu saja
hal ini menyebabkan perubahan besar pada trend metode presentasi saat ini,
dan dapat dimanfaatkan untuk mengajarkan Teknologi Informasi dan Komunikasi
(TIK).
Pengolahan bahan presentasi dengan menggunakan komputer tidak hanya
untuk dipresentasikan dengan menggunakan alat presentasi digital dalam
bentuk Multimedia projector (seperti LCD, In-Focus dan sejenisnya), melainkan
juga dapat dipresentasikan melalui peralatan proyeksi lainnya, seperti over
head projector (OHP) dan film slides projector yang sudah lebih dahulu diproduksi.
Sehingga lembaga atau instansi yang belum memiliki perangkat
alat presentasi digital akan tetapi telah memiliki kedua alat tersebut, dapat
30
memanfaatkan pengolahan bahan presentasi melalui komputer secara maksimal.
Dalam sudut pandang proses pembelajaran, presentasi merupakan salah
satu metode pernbelajaran. Penggunaannya yang menempati frekuensi paling
tinggi dibandingkan dengan metode lainnya. Berbagai alat yang dikembangkan,
telah memberikan pengaruh yang sangat basar bukan hanya pada pengembangan
kegiatan praktis dalam kegiatan presentasi pembelajaran akan tetapi
juga pada teori-teori yang mendasarinya. Perkembangan terakhir pada bidang
presentasi dengan alat bantu komputer telah menyebabkan perubahan tuntutan
penyelenggaraan pembelajaran. Di antaranya tuntutan terhadap peningkatan
kemampuan dan keterampilan para guru dalam mengolah bahan-bahan
pembelajaran ke dalam media presentasi yang berbasis komputer.
b). CD Multimedia Intraktif
CD interaktif dapat digunakan pada pembelajaran di sekolah sebab cukup
efektif meningkatkan hasil belajar siswa terutama komputer. Terdapat dua istilah
dalam perkembangan CD interaktif ini yaitu Computer Based Instructuion
(CBI) dan Computer Assisted Instructuion (CAI) Sifat media ini selain interaktif
juga bersifat multi media terdapat unsur-unsur media secara lengkap yang
meliputi sound, animasi, video, teks dan grafis. Beberapa model multimedia
interaktif di antaranya:
(1) Model Drill: Model drills dalam CBI pada dasarnya merupakan salah satu
starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman belajar
yang lebih kongkrit melalui penciptan tiruan-tiruan bentuk pengalaman
yang mendekati suasana yang sebenarnya.
(2) Model Tutorial: Program CBI tutorial dalam merupakan program pembelajaran
yang digunakan dalam proses pembelajaran dengan menggunakan
perangkat lunak berupa program komputer yang berisi materi pelajaran.
Metode Tutorial dalam CAI pola dasarnya mengikuti pengajaran Berprograma
tipe Branching yaitu informasi/mata pelajaran disajikan dalam unit
– unit kecil, lalu disusul dengan pertanyaan. Respon siswa dianalisis oleh
komputer (Diperbandingkan dengan jawaban yang diintegrasikan oleh penulis
program) dan umpan baliknya yang benar diberikan. (Nana Sudjana
& Ahmad Rivai:139). Program ini juga menuntut siswa untuk mengaplikasikan
ide dan pengetahuan yang dimilikinya secara langsung dalam kegiat31
an pembelajaran.
(3) Model Simulasi: Model simulasi dalam CBI pada dasarnya merupakan
salah satu starategi pembelajaran yang bertujuan memberikan pengalaman
belajar yang lebih kongkrit melalui penciptan tiruan-tiruan bentuk pengalaman
yang mendekati suasana yang sebenarnya.
(4) Model Games: Model permainan ini dikembangkan berdasarkan atas
“pembelajaran menyenangkan”, di mana peserta didik akan dihadapkan
pada beberapa petunjuk dan aturan permainan. Dalam konteks pembelajaran
sering disebut dengan Instructional Games (Eleanor.L Criswell,
1989: 20)
Pada umumnya tipe penyajian yang banyak digunakan adalah “tutorial”.
Tutorial ini membimbing siswa secara tuntas menguasai materi dengan cepat
dan menarik. Setiap siswa cenderung memiliki perbedaan penguasaan materi
tergantung dari kemampuan yang dimilikinya. Penggunaan tutorial melalui
CD interaktif lebih efektif untuk mengajarkan penguasaan Software kepada
siswa dibandingkan dengan mengajarkan hardware. Misalnya tutorial Microsoft
Office Word, Access, Excel, dan Power Point. Kelebihan lain dari CD interaktif
ini adalah siswa dapat belajar secara mandiri, tidak harus tergantung kepada
guru/instruktur. Siswa dapat memulai belajar kapan saja dan dapat mengakhiri
sesuai dengan keinginannya. Selain itu, materi-materi yang diajarkan
dalam CD tersebut dapat langsung dipraktekkan oleh siswa terhadap siftware
tersebut. Terdapat juga fungsi repeat, bermanfaat untuk mengulangi materi
secara berulang-ulang untuk penguasaan secara menyeluruh.
c). Video Pembelajaran.
Selain CD interaktif, video termasuk media yang dapat digunakan untuk
pembelajaran di SD. Video ini bersifat interaktif-tutorial membimbing siswa
untuk memahami sebuah materi melalui visualisasi. Siswa juga dapat secara
interaktif mengikuti kegiatan praktek sesuai yang diajarkan dalam video. Penggunaan
CD interaktif di SD cocok untuk mengajarkan suatu proses. Misalnya
cara penyerbukan pada tumbukan, teknik okulasi, pembelahan sel, proses respirasi
dan lain-lain.
32
D. Pemanfaatan Internet
Internet, singkatan dari interconection and networking, adalah jaringan
informasi global, yaitu,“the largest global network of computers, that enables
people throughout the world to connect with each other¨. Internet diluncurkan
pertama kali oleh J.C.R. Licklider dari MIT (Massachusetts Institute Technology)
pada bulan Agustus 1962.
Untuk dapat menggunakan internet diperlukan sebuah komputer (memori
minimal 4 mega), hard disk yang cukup, modem (berkecepatan minimal
14.400), sambungan telepon (multifungsi: telepon, faksimile, dan internet),
ada program Windows, dan harus tahu cara mengoperasikannya. Selanjutnya
hubungi provider terdekat. Andaikan semua prasyarat tadi tidak dimiliki, cukup
mendatangi warnet (warung internet) terdekat yang banyak terdapat di
kota-kota besar, kita dapat mengakses situs-situs apa saja sesuai dengan kebutuhan
kita. Internet disebut juga media massa kontemporer, karena memenuhi
syarat-syarat sebagai sebuah media massa, seperti: ditujukan kepada sejumlah
khalayak yang tersebar, heterogen, dan anonim serta melewati media cetak
atau elektronik, sehingga pesan informasi yang sama dapat diterima secara
serentak dan sesaat oleh khalayaknya.
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran mengkondisikan siswa
untuk belajar secara mandiri. “Through independent study, students become
doers, as well as thinkers” (Cobine, 1997). Para siswa dapat mengakses secara
online dari berbagai perpustakaan, museum, database, dan mendapatkan
sumber primer tentang berbagai peristiwa sejarah, biografi, rekaman, laporan,
data statistik, (Gordin et. al., 1995). Informasi yang diberikan server-computers
itu dapat berasal dari commercial businesses (.com), goverment services (.gov),
nonprofit organizations (.org), educational institutions (.edu), atau artistic
and cultural groups (.arts)
Siswa dapat berperan sebagai seorang peneliti, menjadi seorang analis,
tidak hanya konsumen informasi saja. Mereka menganalisis informasi yang
relevan dengan pembelajaran dan melakukan pencarian yang sesuai dengan
kehidupan nyatanya (real life). Siswa dan guru tidak perlu hadir secara fisik
di kelas (classroom meeting), karena siswa dapat mempelajari bahan ajar dan
mengerjakan tugas-tugas pembelajaran serta ujian dengan cara mengakses jaringan
komputer yang telah ditetapkan secara online. Siswa dapat belajar be33
kerjasama (collaborative) satu sama lain. Mereka dapat saling berkirim e-mail
(electronic mail) untuk mendiskusikan bahan ajar. Selain mengerjakan tugastugas
pembelajaran dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diberikan guru
siswa dapat berkomunikasi dengan teman sekelasnya.
Pemanfaatan internet sebagai media pembelajaran memiliki beberapa kelebihan
sebagai berikut:
1. Dimungkinkan terjadinya distribusi pendidikan ke semua penjuru tanah
air dan kapasitas daya tampung yang tidak terbatas karena tidak memerlukan
ruang kelas.
2. Proses pembelajaran tidak terbatas oleh waktu seperti halnya tatap muka
biasa.
3. Pembelajaran dapat memilih topik atau bahan ajar yang sesuai dengan
keinginan dan kebutuhan masing-masing.
4. Lama waktu belajar juga tergantung pada kemampuan masing-masing
pembelajar/siswa.
5. Adanya keakuratan dan kekinian materi pembelajaran.
6. Pembelajaran dapat dilakukan secara interaktif, sehingga menarik pembelajar/
siswa; dan memungkinkan pihak berkepentingan (orang tua siswa
maupun guru) dapat turut serta menyukseskan proses pembelajaran, dengan
cara mengecek tugas-tugas yang dikerjakan siswa secara on-line.
Perkembangan/kemajuan teknologi internet yang sangat pesat dan merambah
ke seluruh penjuru dunia telah dimanfaatkan oleh berbagai negara,
institusi, dan ahli untuk berbagai kepentingan termasuk di dalamnya untuk
pendidikan/pembelajaran. Berbagai percobaan untuk mengembangkan perangkat
lunak (program aplikasi) yang dapat menunjang upaya peningkatan mutu
pendidikan/pembelajaran terus dilakukan. Perangkat lunak yang telah dihasilkan
akan memungkinkan para pengembang pembelajaran (instructional
developers) bekerjasama dengan ahli materi (content specialists) mengemas
materi pembelajaran elektronik (online learning material). Pembelajaran melalui
internet di Sekolah Dasar dapat diberikan dalam beberapa format (Wulf,
1996), di antaranya adalah: (1) Electronic mail (delivery of course materials,
sending in assignments, getting and giving feedback, using a course listserv.,
i.e., electronic discussion group, (2) Bulletin boards/newsgroups for discussion
of special group, (3) Downloading of course materials or tutorials, (4)
34
Interactive tutorials on the Web, dan (5) Real time, interactive conferencing
using MOO (Multiuser Object Oriented) systems or Internet Relay Chat.
Setelah bahan pembelajaran elektronik dikemas dan dimasukkan ke dalam
jaringan sehingga dapat diakses melalui internet, maka kegiatan berikutnya
yang perlu dilakukan adalah mensosialisasikan ketersediaan program
pembelajaran tersebut agar dapat diketahui oleh masyarakat luas khususnya
para calon peserta didik. Para guru juga perlu diberikan pelatihan agar mereka
mampu mengelola dengan baik penyelenggaraan kegiatan pembelajaran
melalui intenet. Karakteristik/potensi internet sebagaimana yang telah diuraikan
di atas tentunya masih dapat diperkaya lagi dengan yang lainnya. Namun,
setidak-tidaknya ketiga karakteristik/potensi internet tersebut dipandang sudah
memadai sebagai dasar pertimbangan untuk penyelenggaraan kegiatan
pembelajaran melalui internet.
35
BAB III
SUMBER BELAJAR
A. Pengantar
Pendidikan konvensional memiliki paradigma bahwa guru adalah satusatunya
sumber belajar, sehingga dianggap orang yang paling memiliki pengetahuan.
Paradigma itu kemudian bergeser menjadi guru lebih dahulu tahu.
Namun sekarang dengan perkembangan ilmu dan teknologi bukan saja pengetahuan
guru bisa sama dengan murid, bahkan murid bisa lebih dulu tahu dari
gurunya. Itu semua dapat terjadi akibat perkembangan media informasi di sekitar
kita sehingga pada saat ini guru bukan lagi satu-satunya sumber belajar,
melainkan guru memiliki fungsi yang lebih luas yaitu sebagai penyedia fasilitas
belajar agar siswa mau belajar (fasilitator), sebagai motivator yang memberikan
semangat dan energi kepada siswa untuk terus belajar. Selain itu guru
harus mampu mengelola kegiatan belajar siswa, memposisikan siswa sesuai
minat, potensi, dan kemampuannya dan memanfaatkan setting yang ada (organisator)
dan mampu mengevaluasi keberhasilan belajar siswa baik proses
maupun hasil (evaluator). Banyak contoh, siswa dapat lebih dahulu mengakses
informasi dari berbagai media yang ada seperti surat kabar, televisi, bahkan
internet sehingga lebih dahulu tahu dibanding gurunya. Tentu saja kondisi
ini merupakan gejala yang positif sekaligus tantangan bagi para guru untuk
memperbaiki proses pembelajaranya.
Potensi-potensi yang tersebar di sekolah dan di masyarakat berupa sumber
belajar harus menjadi perhatian guru untuk diorganisasi dengan baik sehingga
berdayaguna positif untuk keberhasilan belajar siswa. Perkembangan
teknologi yang ada serta perubahan kurikulum menuntut guru untuk lebih kreatif,
tidak lagi selalu menunggu instruksi dari pusat. Guru adalah tenaga profesional,
sehingga harus cepat menyesuaikan diri dan mereposisi perannya. Pada
saat ini guru tidak lagi harus menjadi orang yang paling tahu di kelas. Namun
ia harus mampu menjadi fasilitator belajar dan pengelola sumber belajar
bagi siswanya. Banyak sumber belajar yang tersedia di lingkungan kita, apakah
sumber belajar yang dirancang untuk belajar ataukah yang tidak dirancang
namun dapat dimanfaatkan untuk belajar. Mengapa sumber belajar itu
diperlukan? Pernahkah Anda menemukan guru yang sedang menghadapi ke36
sulitan dalam menjelaskan suatu meteri pelajaran kepada muridnya?
Sebagai seorang pengawas yang memiliki fungsi salah satunya adalah
membantu kesulitan guru dalam melaksanakan proses pembelajaran, tentu
perlu memahami tentang apa itu sumber belajar dan ragam sumber belajar
apa saja yang dapat digunakan oleh seorang guru pada saat menjelaskan suatu
materi. Seorang pengawas yang baik adalah seorang pengawas yang mampu
memberikan solusi terhadap masalah yang dihadapi guru terutama yang
berhubungan dengan proses pembelajaran. Untuk itu alangkah baiknya jika
kita fahami dulu konsep tentang sumber belajar dan jenis sumber belajar yang
dapat digunakan oleh guru dalam menunjang proses pembelajarannya.
B. Konsep Sumber Belajar
Sumber belajar adalah segala sesuatu yang ada di sekitar lingkungan kegiatan
belajar yang secara fungsional dapat digunakan untuk membantu optimalisasi
hasil belajar. Optimalisasi hasil belajar ini dapat dilihat tidak hanya
dari hasil belajar (output) namun juga dilihat dari proses berupa interaksi siswa
dengan berbagai macam sumber yang dapat merangsang untuk belajar dan
mempercepat pemahaman dan penguasaan bidang ilmu yang dipelajarinya.
Implementasi pemanfaatan sumber belajar di dalam proses pembelajaran
sudah tercantum dalam kurikulum. Proses pembelajaran yang efektif adalah
proses pembelajaran yang menggunakan berbagai ragam sumber belajar.
Kegiatan belajar mengajar ditekankan pada aktivitas siswa dengan melakukan
pengamatan benda-benda atau situasi yang ada di lingkungan sekitar. Dari
tujuan tersebut dirancang kegiatan pembelajaran memberikan aktivitas siswa
untuk melakukan percobaan sederhana yang dapat mempengaruhi pengalaman
belajarnya. Misalnya untuk mengenal sifat benda padat, cair, dan gas, melalui
percobaan ini tentu siswa memerlukan bahan dan alat berupa sumber belajar
baik yang nyata maupun buatan untuk memahami konsep benda dan dapat
mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai ilustrasi berikut ini beberapa contoh riil aktifitas pembelajaran
ketika menghadapi tuntutan di atas.
Pertama, guru akan bercerita tentang gajah, kereta api, atau pasar apung.
Guru bisa bercerita mungkin karena pengalaman, membaca buku, cerita orang
lain, atau pernah melihat gambar ketiga objek itu. Apabila murid sama sekali
37
belum tahu, belum pernah melihat dari televisi atau gambar di buku, maka
betapa sulitnya guru menjelaskan hanya dengan kata-kata tentang objek tersebut.
Kalau guru adalah seorang yang ahli bercerita, tentu cerita tersebut
akan sangat menarik bagi murid-murid. Namun tidak semua orang diberikan
karunia kepandaian bercerita. Penjelasan dengan kata-kata mungkin akan
menghabiskan waktu yang lama, pemahaman murid juga berbeda sesuai dengan
pengetahuan mereka sebelumnya, bahkan bukan tidak mungkin akan
menimbulkan kesalahan persepsi karena terjadi verbalisme sehingga persepsi
guru dengan siswa tidak sama.
Kedua, guru membawa murid untuk melihat objek yang sebenarnya misalnya
studi wisata mengunjungi tempat-tempat yang sesuai seperti kebun binatang,
taman safari, cagar alam atau tempat penangkaran binatang. Cara ini
lebih efektif dibandingkan dengan cara lain misalnya siswa mengenal binatang
hanya lewat gambar saja. Konsep ini sejalan dengan pendapat Edgar Dale
dalam teorinya Cone Experience yang menjelaskan bahwa hasil belajar dapat
diperoleh lebih optimal dengan cara melakukan sendiri atau paling tidak melihat
objek nyata. Hal tersebut dapat dilakukan dengan melakukan kegiatan
Fild Trip seperti karyawisata. Namun demikian untuk melakukan tipe pembelajaran
yang membawa siswa pada objek nyata terkadang membutuhkan
biaya dan waktu yang cukup lama. Cara ini walaupun efektif tapi kurang efisien.
Tidak mungkin untuk belajar semua orang harus mengalami segala sesuatu.
Dengan demikian diperlukan kreatifitas guru untuk menjadikan pembelajaran
lebih efisien namun hasilnya lebih efektif dengan berpijak pada
prinsip pengalaman belajar Edgare Dale di atas. Cara kedua ini disebut juga
pemanfaatan sumber belajar dengan menggunakan fasilitas yang sudah tersedia
dan tidak dirancang secara khusus untuk pembelajaran namun dapat digunakan
secara langsung (media by utilization).
Ketiga, disebut media by design. Dalam hal ini guru merancang media
sesuai dengan tuntutan tujuan materi dan karakteristik siswa, seperti gambar,
foto, film, video tentang objek tersebut untuk dipergunakan di kelas. Cara ini
akan sangat membantu guru dalam memberikan penjelasan. Selain menghemat
kata-kata, menghemat waktu, penjelasan guru pun akan lebih mudah dimengerti
oleh murid, menarik, membangkitkan motivasi belajar, menghilangkan
kesalahpamahaman, serta informasi yang disampaikan menjadi lebih kon38
sisten. Treatment pembelajaran seperti ini menghasilkan perolehan pengetahuan
dan pemahaman lebih dari 50% dan dapat dikatakan pembelajaran cukup
berhasil. Seperti yang kita tahu tentang teori Cone Experience (Kerucut
Pengalaman) dari Edgar Dale berikut ini:
Ketiga tipe pembelajaran di atas dapat kita simpulkan bahwa tipe pertama
menggunakan informasi verbal, tipe kedua berupa pengalaman nyata, sedangkan
cara ketiga informasi melalui media. Di antara ketiga cara tersebut,
cara kedua dan ketiga adalah cara yang paling bijaksana dilakukan, karena
dengan melalui pengalaman langsung siswa mudah mengerti, namun dengan
menggunakan tipe belajar ketiga pun sangat baik, karena dengan menggunakan
media dalam proses pembelajaran, belajar menjadi lebih efektif dan efisien.
C. Jenis-jenis Sumber Belajar
Dalam buku Instructional Technologies The Definition and Domains of
The Field (1994), AECT (Association for Educational Communication and
Technology) membedakan enam jenis sumber belajar yang dapat digunakan
dalam proses belajar, yaitu:
1. Pesan (Message)
Pesan merupakan sumber belajar yang meliputi pesan formal yaitu pesan
yang dikeluarkan oleh lembaga resmi, seperti pemerintah atau pesan yang
We tend remember
Reading
Hearing
word
Looking at
pictures
Waching at movie
Waching at an exhibits
Waching a Demonstrtation
exhibits
Seeing it done on location
Participation in a disscussion
Giving a talk
Performace dramatic presentation , simulation
Doing the real thing
We tend remember
10% of what we
20% of wharet awde
hear
30% of what we
see
50% of what we
hear and see
70% of what we say
70% of what we say
and do
Verbal receiving
Visual receiving
Receiving and
participating
Doing
39
disampaikan guru dalam situasi pembelajaran. Pesan-pesan ini selain disampaikan
secara lisan juga dibuat dalam bentuk dokumen seperti kurikulum, peraturan
pemerintah, perundangan, GBPP, silabus, satuan pembelajaran dan
sebagainya. Pesan nonformal yaitu pesan yang ada di lingkungan masyarakat
luas yang dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran misalnya cerita rakyat,
legenda, ceramah oleh tokoh masyarakat dan ulama, prasasti, relief-releif
pada candi, kitab-kitab kuno, dan peninggalan sejarah yang lainnya.
2. Orang (People)
Semua orang pada dasarnya dapat berperan sebagai sumber belajar, namun
secara umum dapat dibagi dua kelompok. Pertama, kelompok orang
yang didesain khusus sebagai sumber belajar utama yang dididik secara profesional
untuk mengajar, seperti guru, konselor, instruktur, dan widyaiswara.
Termasuk kepala sekolah, laboran, teknisi sumber belajar, pustakawan dan
lain-lain. Kelompok yang kedua adalah orang yang memiliki profesi selain
tenaga yang berada di lingkungan pendidikan dan profesinya tidak terbatas.
Misalnya politisi, tenaga kesehatan, pertanian, arsitek, psikolog, lawyer, polisi
pengusaha dan lain-lain.
3. Bahan (Matterials)

Bahan merupakan suatu format yang digunakan untuk menyimpan pesan
pembelajaran, seperti buku paket, buku teks, modul, program video, film,
OHT (over head transparency), program slide,alat peraga dan sebagainya
(biasa disebut software).
4. Alat (Device)
Alat yang dimaksud di sini adalah benda-benda yang berbentuk fisik sering
disebut juga dengan perangkat keras (hardware). Alat ini berfungsi untuk
menyajikan bahan-bahan pada butir 3 di atas. Di dalamnya mencakup
multimedia Projector, Slide Projector, OHP, Film, tape recorder, Opaqe
projector, dan sebagainya.
5. Teknik
Teknik yang dimaksud adalah cara (prosedur) yang digunakan orang dalam
memberikan pembelajaran guna tercapai tujuan pembelajaran. Di dalam40
nya mencakup ceramah, permainan/simulasi, tanya jawab, sosiodrama, dan
sebagainya.
6. Latar (Setting)
Latar atau lingkungan yang berada di dalam sekolah maupun lingkungan
yang berada di luar sekolah, baik yang sengaja dirancang maupun yang tidak
secara khusus disiapkan untuk pembelajaran. Termasuk di dalamnya adalah
pengaturan ruang, pencahayaan, ruang kelas, perpustakaan, laboratorium,
tempat workshop, halaman sekolah, kebun sekolah, lapangan sekolah, dan sebagainya.
Sumber belajar yang diuraikan di atas, merupakan komponen-komponen
yang dapat dimanfaatkan untuk pembelajaran. Secara khusus untuk kategori
bahan (matterials) dan & alat (device) yang kita kenal sebagai software dan
hardware tak lain adalah media pendidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Adey, P. 1989. Adolescent development and school science. International
Journal of Science Education, 79: 98. England.
Alessi M. Sthephen & S.R., Trollip. 1984. Computer Based Instruction Method
& Development. New Jersley: Prentice-Hall, Inc.
Barbara B. Seels, Rita C. Richey. 1994. Instructiuonal Technology: The
Definition and Domains of The Field, AECT Washington DC.
Bates, A. W. 1995. Technology, Open Learning and Distance Education.
London: Routledge.
Cepi Riyana. 2004. Strategi implementasi Teknologi Informasi dan Komunikasi
dengan Me-nerapkan Konsep Instructional Technology. Jurnal Edutech,
Jurusan Kurtek Bandung.
Cepi Riyana. 2006. Media Pembelajaran. Modul, Fakultas Ilmu Pendidikan.
Depdikbud. 1993. Kurikulum SD 1994. Jakarta: Depdikbud.
Drive, R. 1988. Changing conceptions. Journal of Research in Education,
161-96.
Gerlach, S. Vernon. 1980. Teaching and Media. New Jersey: Prentice-Hall.,
Inc.
Heinich, R., Molenda, M., & Russel, J.D. 1996. (3rd Ed). Instructional
Technology for Teaching and Learning: Designing Instruction, Integrating
41
Computers and Using Media. Upper Saddle River, NJ.: Merril Prentice
Hall.
Kemp, Jerrold E. 1994. Designing Effective Instruction. New York: MacMillan
Publisher.
Kenji Kitao. 1998. Internet Resources: ELT, Linguistics, and Communication.
Japan: Eichosha.
Molenda, Heinich Russell. 1982. Instructional Media and The New Technology
of Instruction. Canada: John Wiley & Son.
Sadiman Arief. 1990. Media Pendidikan, Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatan.
Jakar-ta: Rajawali.

Entri Populer